Diterjemahkan otomatis

Saudari yang telah kembali dan kehilangan orangtua non-Muslim - bagaimana kalian menghadapinya?

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh saudariku, Semoga kalian semua baik-baik saja, inshaAllah. Aku ingin mendengar dari saudari-saudari yang merupakan mualaf dan pernah mengalami kehilangan orang tua yang bukan Muslim. Untuk memberi sedikit konteks, aku mualaf sekitar 16 tahun yang lalu dan sekarang usiaku di awal 30-an. Bagaimana kalian mengatasi kematian/kehilangan orang tua yang bukan Muslim? Aku kehilangan ayahku hampir setahun yang lalu dan itu sangat menyakitkan, tapi alhamdulillah imanku tetap utuh. Yang aku rasakan sulit adalah tidak bisa berdoa untuknya dengan cara yang diinginkan hatiku. Untuk jelasnya, dengan "kesulitan" aku tidak bermaksud kesulitan dalam menerima takdir Allah - alhamdulillah aku menerimanya, dan aku tahu Nabi juga mengalami kesulitan. Aku juga paham kita tidak bisa mengubah hukum tentang apa yang diperbolehkan setelah seseorang meninggal yang tidak menerima Islam, dan aku tidak sedang meminta debat tentang itu. Aku percaya Allah adalah Yang Maha Penyayang dan Yang Maha Adil. Yang benar-benar aku tanyakan adalah tentang sisi emosional: bagaimana kalian secara pribadi melewati perasaan ingin mendoakan orang tua tapi tahu batasan dari apa yang bisa kita lakukan? Apakah kalian merasa kesepian dalam kesedihan itu? Bagaimana tanggapan keluarga dan teman-teman - apakah Muslim lain dengan orang tua Muslim mengerti, ataukah mereka merasa sulit untuk berhubungan? Cara praktis atau spiritual apapun yang kalian anggap membantu akan sangat berarti. Jazakunna Allahu khayran 💕

+333

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

Diterjemahkan otomatis

Gak bohong, kadang aku nangis di momen-momen acak dan ngingetin diri sendiri kalo Allah lihat niatku. Aku juga berzikir dan donate buat tujuan yang dia peduli. Keluarga gak selalu paham, tapi bibi-bibi dan sepupu yang juga sudah kembali itu adalah orang-orang yang aman buatku. Terus deh, bergantung pada komunitas. 🤍

+15
Diterjemahkan otomatis

Awalnya, aku merasa sangat sendirian. Orang-orang yang punya orangtua Muslim tidak bisa sepenuhnya memahami konflik batin tersebut. Membaca cerita tentang sahabiyat dan menemukan seorang kakak yang bijaksana untuk diajak bicara membantu menenangkan rasa bersalahku. Aku juga mulai menghafal surah-surah pendek dan membacakannya pelan-pelan untuknya. Kenyamanan kecil itu berarti. 🌸

+15
Diterjemahkan otomatis

Ini benar-benar menyentuh hati saya - saya kehilangan ayah saya dan merasa terombang-ambing antara ajaran iman dan cinta saya padanya. Yang membuat saya merasa tenang adalah mengetahui bahwa doa dan amal baik dari kami bisa memberi manfaat bagi orang lain dengan cara yang hanya Allah yang tahu. Itu membantu saya untuk menyalurkan cinta menjadi amal dan doa yang konsisten.

+16
Diterjemahkan otomatis

Mengirimi kamu cinta. Aku menemukan bahwa menulis surat untuknya membantu - menuangkan apa yang nggak bisa aku ucapkan dalam doa. Lalu aku berdoa untuk petunjuknya tanpa memaksakan hal-hal tertentu. Tindakan kecil seperti memberi sedekah atas namanya membuat hatiku lebih tenang. Ini berantakan dan nggak apa-apa.

+4
Diterjemahkan otomatis

Mashallah, postingmu bikin aku tersentuh. Aku kehilangan ibuku yang bukan Muslim beberapa tahun setelah aku kembali. Aku nangis banget dan merasa bersalah karena pengen berdoa dengan cara tertentu. Yang membantu itu bikin doa-doa konsisten buat kesejahteraannya dan melakukan amal baik atas namanya. Itu nggak menghapus rasa sakit, tapi itu memberi aku penghiburan. 🤲

+4
Diterjemahkan otomatis

Saya bisa ngerti. Saya kembali ke jalan yang benar di usia 22 dan kehilangan ayah saya tahun lalu. Kesepian itu nyata karena bahkan teman-teman dekat pun gak ngerti. Saya menemukan ketenangan dalam zikr, ikut halaqa, dan ngobrol sama kakak perempuan yang udah melewati itu - dia membuat perasaan itu jadi normal. Kamu tidak sendiri, saudariku. ❤️

+11
Diterjemahkan otomatis

Saya berbalik di kemudian hari dan kehilangan ibu saya tidak lama setelah itu. Jalan-jalan berduka tanpa musik, doa, dan memberi kepada yayasan anak yatim atas namanya memberi saya tujuan saat rasa duka terasa berat. Itu tidak memperbaiki segalanya, tapi itu membuat cinta menjadi nyata. Semoga Allah meringankan hatimu. Ameen.

+13
Diterjemahkan otomatis

Aku terkejut dengan campuran emosi yang aku rasakan - rasa syukur karena aku menemukan iman, dan kesedihan yang dalam untuk ibuku. Bicara dengan terapis yang menghormati keyakinanku sangat membantu, dan aku bergabung dengan kelompok dukungan untuk perempuan setempat. Mendengar cerita orang lain membuat rasa duka ini jadi kurang merasa terasing. Hadapi hari demi hari. 💕

+7

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar