saudari
Diterjemahkan otomatis

Mencari Petunjuk untuk Kembali ke Islam – Ada Saudari dengan Perjuangan Serupa?

Assalamu alaikum, Aku bakal singkat aja karena nggak mau bikin siapa pun kebanjiran detail. Aku dibesarkan sebagai Muslim tapi menghadapi banyak trauma-kekerasan spiritual, luka fisik, dan ditinggal tanpa keluarga di panti asuhan. Sekarang di pertengahan 20-an, aku udah berjuang sama masalah kesehatan mental yang parah sejak umur 12, minum obat selama satu dekade (berhenti tahun lalu), dan dirawat di rumah sakit dua kali. Aku tinggal sama teman sekamar, kerja, dan kuliah, tapi nggak ada keluarga di sekitar. Aku bergumul dengan pikiran pengen nggak ada di sini, hampir setiap hari, tapi hatiku tetep balik lagi ke Allah. Susah banget nyambung sama Muslim lain di sekitarku-mereka kayaknya nggak ngerti dalemnya apa yang udah aku lewatin, which is fine, tapi aku bener-bener pengen nyambung lagi sama iman dan petunjuk-Nya. Bahkan dengerin Quran aja susah karena pelecehan masa lalu, dan pikiranku nggak bisa fokus karena neurodivergent. Ada yang bisa saranin langkah-langkah praktis? Masjid lokal punya masalah keamanan, terutama buat perempuan, jadi aku nggak merasa aman ke sana. Online, aku nemuin banyak banget pendapat yang bentrok. Waktu ngobrol sama orang yang belum ngalamin sakit yang mirip, mereka cuma bilang sholat aja dan semuanya bakal baik-baik aja-tapi nggak sesederhana itu kalo punya CPTSD. Hidupku kayak berantakan gitu, tapi aku terus mikirin cinta dan kesabaran Allah, dan aku nyoba ngerefleksikan sifat-sifat itu. Aku ngerasa ketinggalan banyak banget. Kalo kamu tau sumber online atau pembicara-khususnya saudari yang berbagi pengalaman mereka-tolong kasih tau ya. Semoga Allah meringankan semua perjuangan kita.

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Wa alaikum assalam, ukhti. Sakit yang kamu rasa itu nyata banget, dan hatimu yang tetap berpaling ke Allah di tengah semua itu sungguh indah. Mulai dari yang kecil aja-dengerin Surah Ad-Duha, itu tuh menenangkan aku. Kamu nggak sendiri, semoga Allah ngasih kamu kesembuhan.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Keberanianmu berbagi cerita itu sungguh menginspirasi. Kalau rasanya susah buat fokus, coba deh journaling Quran cukup satu ayat saja. Aku suka bagian 'Bersama kesulitan pasti ada kemudahan'-ulang-ulang terus ya. Aku bakal menyimpanmu dalam doaku, oke?

saudari
Diterjemahkan otomatis

Subhanallah, kenyataan bahwa kamu masih terus berusaha mendekat pada Allah itu tanda cinta-Nya padamu. Jangan remehkan amalan kecil-mengucap alhamdulillah di hari yang berat itu sebuah kemenangan. Kami di sini buatmu, sis.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Aku berkaca-kaca baca ini. Semoga Allah membalas kesabaranmu ya. Coba deh cek The AUQLA Project-mereka punya dukungan kesehatan mental online gratis dengan pendekatan Islami. Kamu itu lebih tangguh dari yang kamu kira, lho.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Kak, aku juga punya CPTSD dan paham banget perjuangannya. Coba deh aplikasi 'Qariah' buat dengerin bacaan Quran dari perempuan, lebih lembut suaranya. Nggak usah dipaksain sholat; kadang cuma curhat pakai kata-kata sendiri dalam doa aja udah cukup. Peluk dari Malaysia.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Duh, aku ngerasa banget soal ini. Masjid bisa jadi pemicu juga buatku. Aku nemuin ketenangan dengan zikir singkat sendirian sambil merem. Tanpa tekanan, cuma bernapas aja. Kamu sebenarnya lebih baik dari yang kamu kira, lho.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Cerita kamu benar-benar menyentuh hatiku. Aku juga kurang lebih di posisi yang sama-nggak punya keluarga dan neurodivergen. Yang ngebantu aku adalah dengerin ceramah-ceramah dari Dr. Rania Awaad soal kesehatan mental dalam Islam. Dia tuh permata, sih.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Jujur, orang yang meremehkan trauma dengan bilang 'doa aja' itu salah banget. Nggak apa-apa kok pelan-pelan. Mungkin cari guru ngaji online perempuan yang ngerti soal trauma? Kirim cinta dari satu saudari yang lagi struggling ke saudari lainnya.

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar