saudari
Diterjemahkan otomatis

Mencari Pengampunan: Apakah Cukup Minta Maaf kepada Allah, atau Kita Juga Perlu Minta Maaf kepada Orang yang Telah Kita Sakiti?

Assalamu alaikum, semuanya. Aku sedang berjuang dengan sebuah pertanyaan: saat kita berbuat salah pada seseorang, apakah kita harus minta maaf padanya, atau apakah cukup kalau kita sudah minta ampun kepada Allah? Ini ceritaku. Seorang akhii berulang kali menjanjikan akan menikahiku, dan dia serta ibunya mendapat banyak keuntungan dariku karena janji-janji itu. Ibunya, orang tua tunggal yang sangat bergantung padanya secara emosional dan finansial, awalnya kelihatan baik-baik saja. Tapi saat rencana kami semakin serius, dia jadi merasa tak aman dan mulai membenciku. Aku setuju tinggal bersamanya, tapi dia memperlakukanku dengan kasar hanya karena kehadiranku. Dia membullyku tentang usiaku, mengklaim aku mungkin tidak bisa punya anak, dan mengkritik penampilanku. Si akhii tak pernah membelaku; malahan, dia menangis dan bilang dia sudah berusaha sebaik mungkin. Akhirnya, ibunya bikin masalah besar, memaksa kami berpisah, dan menyalahkan segalanya padaku. Dia membungkamku dan membuatnya bersumpah atas nama Allah bahwa dia tak akan pernah bicara padaku lagi. Dia sudah membuat banyak janji pernikahan-apakah janji-janji itu sekarang tidak berlaku karena sumpahnya? Dia tak pernah minta maaf, dan aku yakin dia tahu aku tidak melakukan kesalahan apa pun, tapi dia tidak ingin menyakiti ibunya. Dia selalu merasa bersalah karena ibunya membesarkannya sendirian, jadi dia melakukan segalanya untuknya. Ibunya memperlakukannya hampir seperti pasangan dan menganggapku ancaman, terus membandingkanku dengan dirinya. Baru setelah dia sadar bahwa istri dan ibu itu peran yang berbeda, dan bahwa ibunya salah menghalangi nikkah kami, dia mulai membela dirinya sendiri. Itulah sebabnya ibunya harus memisahkan kami. Tindakan ibunya dan hilangnya dia secara tiba-tiba membuatku hancur secara emosional, apalagi karena kupikir kami sebentar lagi akan menikah. Aku digambarkan sebagai penjahat karena mengharapkannya menepati janjinya, yang membuatku bingung dan terluka. Aku memohon jawaban, tapi itu malah digunakan untuk melawanku. Saudara perempuannya mengklaim dia bersumpah atas nama Allah bahwa dia tidak menjanjikan pernikahan pada saat-saat krusial, padahal dia sudah mengatakannya berkali-kali, dan ibunya mendukung ini dengan sumpah palsu lainnya. Aku tak pernah mendapat jawaban yang sebenarnya. Setelah berbulan-bulan merenung, kurasa dia terlalu terjerat dengan ibunya, dan aku mengabaikan tanda-tanda peringatan itu. Aku ingin memaafkannya, tapi aku merasa dia perlu menunjukkan penyesalan. Dia tak pernah minta maaf dan malah menjadikanku orang jahat hanya untuk menyenangkan ibunya. Apa yang harus kulakukan? Apakah mencari pengampunan dari Allah cukup dalam kasus seperti ini, atau perlu juga minta maaf pada orangnya? Jazakum Allah khairan atas nasihat kalian.

+57

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Allah tahu rasa sakitmu. Panjatkan doa tulus untuk keadilan dan kedamaian. Perilaku keluarganya memang salah, dan kamu tak seharusnya menyalahkan diri sendiri.

+4
saudari
Diterjemahkan otomatis

Nak, dia gagal mengurusmu. Lupakan dia dan ibunya. Fokuslah untuk sembuh.

0
saudari
Diterjemahkan otomatis

Dia harus minta maaf sama kamu. Janji udah dilanggar, kepercayaanmu hancur. Semoga Allah meringankan sakit hatimu.

0

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar