Diterjemahkan otomatis

Mencari Pengampunan Setelah Situasi Sulit

Assalamu'alaikum semua, Semoga kalian semua menjalani Ramadan yang penuh berkah. Aku cuma butuh saran dan tolong ya, tanggapannya yang baik-baik. Ayahku sudah bersikap kasar terhadap ibuku, aku, dan saudara-saudara perempuanku sejak aku ingat. Sekarang aku sudah menikah dan punya anak, nggak tinggal di rumah lagi, tapi aku selalu berusaha membela keluarga kalau lagi ada di sekitar. Aku bukan tipe yang diam aja-aku suka ngomong apa yang ada di pikiran, dan kalau aku dihina, aku bisa balas menghina juga. Sudah sekitar setahun ini, ayahku benar-benar menyebalkan, terutama ke ibuku yang lagi pulih dari kanker. Saudara-saudara perempuanku kerja keras banget, dan jujur aja, ayahku sangat diberkati punya istri dan anak-anak yang perhatian kayak mereka. Tapi yang dia lakukan cuma omongin mereka buruk-buruk dan melampiaskan frustrasinya ke semua orang. Dia jarang ngomong banyak ke aku soalnya aku udah menikah, tapi liat dia perlakukan ibuku dengan buruk itu sesuatu yang nggak bisa aku terima. Dia mulai cari gara-gara dari hal sepele. Aku tinggal di rumah ibu beberapa hari ini buat berkunjung, tapi sikapnya bikin semuanya tegang. Kemarin malam pas sahur, dia marah-marah ke ibu dan saudara perempuanku gegara hal kecil-kayak kucing jatohin gelas kosong. Aku kesal dan ngomong sesuatu yang kasar soal kucing itu karena marah, terus ayahku mulai bikin doa buruk buat kucingnya. Aku nambahin kata-kata marah lagi, dan situasinya makin panas. Dia nggak berhenti-henti, jadi aku bilang dia buat diam. Ibu ikut campur karena liat dia mau mukul aku, tapi aku nggak mundur soalnya aku udah capek dianiaya secara verbal. Dia akhirnya menampar aku keras banget, dan karena marah dan membela diri, aku balas tampar dia. Dia kaget terus nyerang aku, nangkap rambutku dan mukulin aku lebih lagi. Saudara perempuanku harus ikut campur buat lindungin aku. Suamiku lagi nggak ada di rumah waktu itu. Setelah itu, aku marah banget sampai nggak bisa berhenti ngomong hal-hal buat nyakitin dia. Aku telepon suamiku buat jemput aku. Ayahku mulai berkemas, dan kami khawatir dia mungkin ambil dokumen penting, jadi saudara perempuanku ambil itu darinya. Dia hampir mukul dia, jadi aku ikut campur dan mulai teriak-teriak lagi-dia tampar aku berkali-kali, sampe telinga aku cedera. Telinga aku terus berdenging dan aku ngerasa lemes gegara itu. Aku akhirnya telepon polisi, dan begitu mereka dateng, ayahku langsung bertingkah tenang dan normal banget. SubhanAllah, itu nunjukin dia sebenernya bisa kendaliin emosinya selama ini. Alhamdulillah, bayi laki-lakiku lagi tidur dan nggak liat semua kejadian ini. Suamiku bilang ke ayahku dia nggak boleh dekat-dekat aku atau anak kami sampai dia minta maaf dan berubah. Tapi aku juga ngerasa aku perlu minta maaf ke ayahku, walopun aku nggak pengen soalnya itu bisa jadi kayak membenarkan sikapnya, apalagi setelah dia lukai telinga aku. Aku udah memaafkan dia berkali-kali sepanjang hidupku atas kekerasan dan penghinaannya. Misalnya, aku maafin dia dalam hati sehari setelah pernikahanku, walopun dia nggak pernah minta maaf-dia hancurin hari pernikahanku dengan memaki dan menghina aku sepanjang pagi karena aku nentuin mahr yang kecil buat suamiku, yang waktu itu lagi kesulitan finansial. Dia juga nggak punya hak buat mukul aku karena aku udah menikah sekarang. Aku udah dewasa, dan aku udah liat kekerasannya seumur hidupku. Iya, dia menghidupi kami, tapi dia selalu pastikan kami tau itu, dan itu cuma sebatas yang paling minimal aja. Sejak kejadian ini, aku nggak berhenti mikirinnya. Aku ngerasa Ramadan aku nggak diterima sama sekali. Aku berdosa karena balas mukul ayahku dan memaki dia, dan aku ngerasa aku udah hancurin bulan ibadahku. Aku udah sholat telat terus, dan butuh usaha besar buat cuma bangun buat sholat aja. Aku lagi dalam pikiran 'nyerah'. Pertanyaanku: seberapa serius dosaku ini, dan apa yang harus aku lakuin buat minta ampun sama Allah? Apa aku perlu minta maaf ke ayahku biar Allah ngampunin aku? Aku nggak pengen minta maaf karena itu bisa bikin dia makin jadi-jadi, tapi aku takut sama hukuman Allah. Aku juga khawatir, na'udzubillah, bahwa bahkan kalau aku jadi orang tua yang baik, anakku suatu hari nanti mungkin perlakukan aku kayak gini. Tolong kasih saran ya.

+169

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

Diterjemahkan otomatis

Ini membuat hatiku hancur membacanya. Semoga Allah meringankan rasa sakitmu. Dosamu dapat diampuni-Dia tahu perjuanganmu. Fokuslah pada penyembuhan dan shalatmu; jangan biarkan ini merusak Ramadan-mu.

+18
Diterjemahkan otomatis

Pertama, lindungi diri dan anakmu. Keselamatanmu lebih penting daripada meminta maaf darinya. Apa yang dia lakukan itu sangat salah. Berdoalah untuk kesabaran dan petunjuk; Allah Maha Pengasih.

+20
Diterjemahkan otomatis

Bagian polisi itu... subhanAllah. Dia tahu betul apa yang dia lakukan. Tetap kuat, kak. Ayahmu butuh pertolongan, tapi kamu tidak aman di dekatnya.

+9
Diterjemahkan otomatis

Kamu membela ibumu, itu mulia. Tapi membalas pukulan justru memperumit masalah. Mintalah ampun kepada Allah dengan tulus; kamu memang didorong sampai batasnya. Kamu nggak perlu minta maaf ke si penyiksa itu.

+4
Diterjemahkan otomatis

Perasaanmu itu sah. Kasih Allah itu luas. Tobat untuk bagianmu, tapi jangan menyalahkan diri sendiri atas penyiksaan dia. Mungkin carilah nasihat dari ulama yang terpercaya di sekitar tempatmu. Aku mendoakanmu.

+14

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar