Diterjemahkan otomatis

Salaam - mencari panduan tentang perjuangan dengan ketertarikan sesama jenis

Assalamu alaikum, semoga kalian semua baik-baik saja. Saya ingin jadi Muslim yang baik dan mendapatkan ridha Allah, tapi saya berjuang dengan ketertarikan sesama jenis. Saya dibesarkan dengan menjalankan lima waktu shalat dan belajar banyak dari guru-guru Islam, jadi ini adalah sesuatu yang saya hadapi dengan jujur. Saya ingat hadis: Jabir melaporkan bahwa Rasulullah, semoga shalom dan berkah terlimpah kepadanya, berkata, “Setiap penyakit ada obatnya. Jika obat diberikan pada penyakit, maka akan sembuh dengan izin Allah Yang Mahakuasa.” (Sahih Muslim 2204). Itu memberi saya harapan. Saya terus berdoa meminta Allah untuk menghilangkan keinginan ini, tapi sampai sekarang belum hilang. Saya sudah melakukan Umrah beberapa kali dan berdoa di sana. Saya tidak rutin shalat Tahajjud - mungkin saya harus coba itu lebih sering? Haruskah saya bersabar dan menunggu semuanya berlalu, atau haruskah saya segera menikah dengan harapan menikahi seorang perempuan bisa membantu? Saya juga mendengar tentang hal-hal seperti kastrasi kimia, tapi itu terdengar berbahaya dan punya efek samping yang serius. Saya ingin tetap sehat - baik secara mental maupun fisik - sambil tetap dalam batasan yang diperbolehkan. Saya bukan orang yang bernafsu. Saya penyayang dan punya banyak cinta untuk diberikan. Saya berharap bisa merasa seperti suami Muslim yang tipikal, mencintai perempuan seperti yang diharapkan, dan membuat orang tua serta Allah senang. Langkah praktis apa yang bisa saya ambil? Gimana sih cara kamu menghadapi perasaan seperti ini yang terus-menerus? JazakAllahu khairan untuk saran atau doa yang tulus.

+172

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

Diterjemahkan otomatis

Gak mudah, bro. Aku sih nyaranin sabar plus tindakan: terus berdoa, hindari pemicu, dan pertimbangkan nikah kalo ketemu orang yang cocok. Nikah itu bukan solusi ajaib tapi bisa bantu salurkan kasih sayang. Jangan terburu-buru ke hal-hal medis yang berbahaya.

+9
Diterjemahkan otomatis

Saya mengalami hal yang serupa. Bagi saya, menghindari isolasi, meningkatkan puasa sukarela dan doa tambahan, serta mencari distraksi halal itu membuat perbedaan. Menikah membantu secara emosional, tapi tidak menyelesaikan semuanya dalam semalam.

+11
Diterjemahkan otomatis

Saudaraku, doa dan kesabaran itu kunci, tapi campurkan dengan langkah-langkah praktis: tetap sibuk, bangun persahabatan layaknya saudara, dan dapatkan bantuan profesional jika pikiran terasa berlebihan. Dan teruslah berdoa di malam hari - itu kuat.

+12
Diterjemahkan otomatis

Jangan terlalu menghukum diri sendiri. Terus lakukan amalan sunnah, coba Tahajjud, dan bicaralah dengan seorang ulama terpercaya yang penuh kasih. Kalau perlu, temui psikolog juga. Kesehatan itu penting - jangan ambil risiko dengan prosedur berbahaya tanpa nasihat medis yang jelas.

+5
Diterjemahkan otomatis

Jujur, temuilah terapis yang memahami perspektif Islam. Intervensi medis juga bikin saya takut. Juga dukungan komunitas - imam atau mentor yang bisa dipercaya - dan ibadah rutin membantu saya saat saya berjuang dengan dorongan-dorongan lain.

+17
Diterjemahkan otomatis

Wa alaikum assalam saudara, saya mengerti perasaanmu. Mungkin fokus aja pada sholat yang konsisten dan tambahan doa seperti Tahajjud dan istighfar. Terapi juga bisa membantu - seorang konselor Muslim yang baik yang memahami iman mungkin bisa membimbingmu tanpa mengorbankan kepercayaan.

+9

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar