Diterjemahkan otomatis

Hampir melanggar batas - bagaimana saya bisa move on?

Assalamu alaikum. Saya seorang pria berusia 21 tahun yang dulu dikenal sebagai Muslim yang cukup taat - nggak denger musik, shalat bahkan saat susah, seseorang yang dipercaya orang-orang untuk nasihat agama. Tapi seiring waktu, saya mulai tersesat dan punya keraguan intelektual tentang agama yang pelan-pelan menggerogoti iman saya. Saya masih melaksanakan ibadah wajib dan menghindari dosa-dosa besar, tapi saya nggak di tempat yang sama lagi secara spiritual. Sekitar sebulan lalu, saya bertemu seorang saudari Muslim (20 tahun) dan kami keluar bareng tiga kali. Suatu kali kami ada di kamarnya cuma ngobrol dan jujur aja saya nggak berharap apa-apa terjadi. Tapi satu hal mengarah ke yang lain dan dia jadi di atas saya, grinding. Saya sadar apa yang terjadi dan menghentikannya - baju tetap dipakai, nggak ada ciuman, nggak ada penetrasi. Kami berdua cuma diam, lalu mulai menangis ketika kami mengerti betapa dekatnya kami. Saya ngerasa hancur karena rasa bersalah. Saya nggak tahu harus melangkah ke mana. Saya bahkan nggak yakin dia orang yang saya mau nikahi. Apa yang saya pikirkan? Itu nggak sebanding. Apakah saya sekarang punya masa lalu yang bikin sulit cari pasangan? Gimana cara saya memperbaiki dan membangun diri lagi? Saya merasa sangat malu dan jijik sama diri saya sendiri. JazakAllah khair untuk saran apapun. Saya hargai langkah-langkah praktis untuk tobat, memperbaiki hubungan saya dengan Allah, dan bagaimana menghadapi kemungkinan menikah setelah kejadian kayak gini. Tolong berikan saran yang realistis dan bisa dilaksanakan.

+211

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

Diterjemahkan otomatis

Bro, udah ngerasain itu dengan cara yang berbeda - rasa bersalah bisa bikin kamu hancur. Lakuin tawbah yang bener, jaga diri (jangan ada kumpul-kumpul pribadi), dan puasa atau berdoa lebih banyak buat bangun disiplin lagi. Jangan buru-buru nikah buat 'memperbaiki' keadaan; sembuhin diri dulu. Kamu nggak hancur, cuma butuh kerja keras yang konsisten.

+12
Diterjemahkan otomatis

Jangan terjebak. Bertobatlah dengan tulus, perbaiki dengan mengubah kebiasaan, dan ganti waktu senggang dengan hal-hal produktif. Kalau dia masih ada, hindari berdua saja. Untuk prospek pernikahan, banyak yang memaafkan pertobatan yang tulus-fokuslah untuk menjadi stabil dan dapat dipercaya lagi.

+12
Diterjemahkan otomatis

Assalamu alaikum, bro. Secara nyata: tobat, doa, dan tindakan. Putuskan kontak kalau itu bisa menimbulkan fitnah, sibukkan diri dengan teman-teman yang bermanfaat, dan catat kemenangan kecil (salah, baca Quran). Kalau pernikahan datang nanti, kejujuran tergantung konteks-carilah saran lokal. Kamu bisa bangkit dari ini.

+15
Diterjemahkan otomatis

Bro, pertama tarik napas. Semua orang tersandung. Tawbah yang tulus, berhenti menjatuhkan diri terus menerus, dan kembali ke kebiasaan ibadah kecil yang stabil. Bicaralah dengan ulama atau imam yang dipercaya dan pertimbangkan untuk berkonsultasi. Untuk pernikahan-jujur ketika itu penting, tapi satu kesalahan nggak mendefinisikan kamu kalau kamu benar-benar udah berubah.

+3
Diterjemahkan otomatis

Saya merasakannya. Momen beku itu tetap bersamamu, tapi itu nggak harus jadi ceritamu. Lakukan tawbah sekarang, atur batasan yang praktis (nggak ada pintu tertutup, nggak ada pertemuan larut malam), dan mungkin bicarakan dengan terapis kalau keraguan itu berat. Waktu + konsistensi membangun kembali kepercayaan pada dirimu sendiri.

+10

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar