saudara
Diterjemahkan otomatis

Mengambil Keputusan Sulit demi Iman

Assalamu alaikum semua. Saya seorang saudara Muslim yang baru saja harus mengakhiri sebuah hubungan karena masalah agama dan hijab, dan saya sangat menghargai pikiran jujur-tidak harus penghiburan, tapi renungan tulus tentang bagaimana saya menanganinya. Kami sudah dekat selama lebih dari satu setengah tahun, keduanya tinggal di negara non-Muslim (seperti Kanada), dan ketika kami pertama kali terhubung, kami berdua cukup rajin ibadah. Saya benar-benar peduli padanya dan punya niatan serius untuk menikah. Melihat ke belakang, saya tahu akan lebih baik memulai semuanya dengan cara yang halal, tapi saya tidak melakukannya, jadi beginilah keadaan sekarang. Sekitar setahun setelah saling kenal, dia bercerita bahwa dia sedang kesulitan dengan imannya dan dalam menjalankan hijab. Setelah hal itu muncul, saya menyarankan untuk jeda sementara karena dua alasan utama: 1. Untuk memberi ruang bagi masing-masing berpikir jernih dan jujur tanpa emosi yang mengganggu 2. Karena ikatan kami kuat, dan saya pikir sedikit jarak mungkin bisa membantu meredakan perpisahan jika sampai terjadi Selama jeda itu, yang berlangsung beberapa bulan, kami melakukan diskusi mendalam tentang Islam dan pentingnya hijab. Saya berbagi apa yang saya ketahui dari para ulama dan sangat mendorongnya untuk berbicara dengan imam atau guru yang berilmu (saya bahkan menawarkan bantuan untuk mengaturnya), karena saya tidak ingin menjadi satu-satunya penuntunnya. Saya banyak berdoa sepanjang waktu itu. Setelah jeda, dia memberi tahu saya bahwa dia tidak bisa sepenuhnya berkomitmen untuk memakai hijab ke depannya. Pada titik itu, kami berdua sepakat bahwa yang terbaik adalah berpisah, merasa bahwa melanjutkan ke pernikahan dengan ketidakpastian itu bisa menimbulkan masalah besar nantinya-mungkin bahkan mempengaruhi pernikahan dan anak-anak di masa depan. Catatan singkat: ketika kami pertama kali bertemu, dia sedang memakai hijab, subhanAllah. Bagi saya, memiliki istri yang berhijab adalah bagian iman yang non-negosiable-bukan sekadar preferensi pribadi-dan saya sudah membuatnya jelas sejak awal. Dia tidak bisa berkomitmen pada hal itu, dan saya menghargai kejujurannya mengatakannya. Kami benar-benar saling peduli, dan ini benar-benar satu-satunya benturan besar di antara kami, tapi saya sadar ini adalah hal inti dalam agama kami. Ini yang ada di pikiran saya: 1. Selain hubungannya sendiri yang tidak halal, apakah saya menanganinya dengan salah? Apakah jeda ketika keraguan muncul adalah keputusan yang tepat, atau malah bisa membuatnya merasa semakin jauh? 2. Dia kehilangan seseorang yang sangat dicintainya karena masalah iman/hijab. Saya khawatir itu mungkin malah menjauhkannya dari Islam alih-alih mendekatkannya. Apakah kekhawatiran itu wajar, dan haruskah saya melakukan sesuatu yang berbeda? 3. Ada saran tentang bagaimana mendekati pernikahan dengan benar mulai sekarang? 4. Apakah boleh berdoa agar Allah membimbingnya kembali ke jalan yang lurus, dan mungkin, jika itu yang terbaik, kami terhubung kembali dengan cara halal suatu hari nanti? 5. Bagaimana cara mengatasi dan menyembuhkan diri dari hal seperti ini? JazakAllahu khayran sudah mendengarkan.

+263

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

saudara
Diterjemahkan otomatis

Sakit sekarang, tapi kamu sudah menghindari seumur hidup kompromi pada masalah inti. Sembuh dengan sabar, doa, dan komunitas. Allah mengganti apa yang kita tinggalkan demi-Nya.

+11
saudara
Diterjemahkan otomatis

Saya menghormati ketegasan dan kekuatan kamu. Jeda itu cerdas-memberi ruang untuk kamu berdua berpikir tanpa tekanan. Fokuslah pada pemulihan dan membuat doa yang sungguh-sungguh.

+9
saudara
Diterjemahkan otomatis

Pendekatanmu sangat bijaksana, bukan salah. Jeda yang kau lakukan menunjukkan bahwa kau peduli pada keimanannya, bukan sekadar kondisimu sendiri. Teruslah berdoa untuk petunjuk baginya.

+16
saudara
Diterjemahkan otomatis

Kau sudah jelas dari awal, itu kuncinya. Sekarang, fokus saja pada pemulihan dirimu sendiri. Waktu dan kepercayaan pada rencana Allah yang paling membantu.

+11
saudara
Diterjemahkan otomatis

Sulit tapi perlu. Kau menanganinya dengan lebih dewasa daripada kebanyakan orang. Kekhawatiranmu tentang menjauhkannya memang beralasan, tapi perjalanannya sekarang bersama Allah.

+8
saudara
Diterjemahkan otomatis

Kamu melakukan hal yang benar, saudaraku. Deen lebih utama. Memang menyakitkan tapi perlu. Semoga Allah memudahkan kalian berdua.

+4
saudara
Diterjemahkan otomatis

Wah, berat banget itu. Tapi kamu tetap berpegang pada prinsip. Untuk pernikahan, libatkan keluarga dari awal, jaga kehalalannya. Itu bisa cegah sakit hati kayak gini nantinya.

+5

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar