Hidup dengan Lautan Memisahkan Kita: Beban Berat di Hatiku
Assalamu'alaikum, semuanya. Aku nggak punya siapa-siapa untuk cerita soal ini, jadi kuungkapkan di sini saja. Sudah sepuluh tahun, dan bebannya mulai terasa terlalu berat untuk kujalani sendirian. Tolong tanggapi perasaanku dengan hati-hati ya. Aku menikah di usia 20 tahun. Aku melahirkan anakku di rumah yang rasanya tak pernah jadi milikku-nggak ada privasi, nggak punya suara, bahkan hampir nggak punya ruang untuk jadi seorang ibu. Mertuaku bahkan suka mengambil bayiku dari kamar mereka saat aku tertidur. Di rumah yang penuh sesak itu, anak kecilku sendiri nggak pernah belajar manggil aku 'Mama' karena aku cuma satu dari banyak wajah di sekitarnya. Sebenarnya sejak awal, suamiku memang sudah menyukai orang lain, dan dia menikahi wanita itu tak lama setelah kami berpisah. Di tahun ketiga, aku mulai menghilang-badanku makin kurus, terlihat lelah, makin jarang bicara-dan semua orang memperhatikannya. Orang tuaku menawarkan aku untuk tinggal di salah satu properti mereka biar ada ruang, tapi dia malah menolak dan minta cerai. Saat kembali ke orang tua, anakku akhirnya bilang 'Mama' untuk pertama kalinya. Usiaku 24 tahun, dan tak lama setelah itu, aku dapat perintah pengadilan pertama yang memperbolehkan mantan suamiku perlahan-lahan membawa anakku pergi. Tahun 2020, ekonomi di negaraku ambruk. Aku nggak bisa dapet kerja. Kakak-adikku lihat aku kesusahan dan membawaku ke AS buat mulai lagi dari nol dan bangkit. Aku titipkan anakku sama ibuku, berpikir aku akan kembali. Selagi aku pergi, mantanku pindahkan mereka ke benua lain. Sekarang aku masih di sini, menyelesaikan S3, dan rasa bersalah ini sulit kuungkapkan dengan kata-kata. Aku cuma lelah banget. Lelah dengan jarak, dengan keheningan, dengan hal-hal negatif yang mereka katakan tentang aku ke anakku. Aku nggak tahu gimana jadi ibu yang baik dari seberang lautan, atau cara memperbaiki apa yang sudah rusak karena bertahun-tahun terpisah dan perkataan orang lain. Tapi aku nggak pernah berhenti ingin mencoba. Belakangan, mantanku terus menolak izinkan aku ketemu anakku-sudah tiga tahun ini. Tolong doakan aku ya; aku merasa hilang dan nggak yakin harus berbuat apa. Saran apa pun akan sangat kuhargai. Jazakumullah khairan.