Diterjemahkan otomatis

Cuma postingan lain tentang merasa kosong - salam dan butuh sedikit saran

Assalamu alaikum semuanya, Semoga kalian semua baik-baik aja. Aku coba singkat aja ya. Setiap saran atau pandangan pasti bakal membantu. Gimana sih kita bisa mencintai Allah dengan tulus kalau hubungan ini terasa seperti tuan dan pelayan? Kadang-kadang rasanya begitu transaksional. Aku tahu aku nggak sepenuhnya tidak sadar - aku juga nggak selalu berdoa hanya untuk apa yang aku mau; aku juga mengakui bahwa Allah pantas dipuji. Tapi tetap aja, aku berjuang untuk berdoa tanpa merasa kayaknya aku hanya mengharapkan sesuatu sebagai balasan di kehidupan ini. Kesempatan jarang banget datang padaku. Aku kesulitan cari kerja, dan aku nggak punya teman dekat lagi - orang-orang yang aku kira teman-temanku sekarang sudah menikah atau fokus pada karir mereka, kita hidup jauh dan jarang berbicara. Aku nggak menyalahkan mereka. Aku berusaha cari teman baru tapi nggak bisa nemuin orang-orang yang cocok. Keuangan juga ketat jadi aku nggak bisa ngundang orang atau keluar banyak. Aku tinggal sendiri dan menghabiskan hari-hariku belajar dan melamar pekerjaan. Aku lulus musim panas ini dan perlu amankan pekerjaan serta menghadapi tanggung jawab dewasa lainnya. Aku sering membandingkan diri dengan orang lain, bukan karena iri tapi berharap semua orang mendapatkan berkat mereka - aku hanya berharap yang sama untuk diriku sendiri. Aku juga bikin kesalahan beberapa tahun yang lalu: ada bibi yang suka bercanda tentang membaca telapak tangan, dan baru-baru ini aku iseng minta dibacain. Dia bilang hal-hal tentang masa laluku yang anehnya akurat dan memberikan ramalan yang bikin aku takut. Aku merasa buruk dan melakukan tawbah yang tulus. Dengerin masalah-masalah yang katanya bakal datang itu nyakitin dan bikin takut, padahal aku udah berdoa supaya dijauhkan dari hal-hal kayak gitu dan minta kemudahan pada Allah. Aku terus berdoa meskipun sulit untuk percaya itu bakal dijawab. Aku tahu keajaiban itu ada dan kekuatan istighfar, tapi sekarang aku mendapati diriku mengaitkan setiap ibadah dengan harapan imbalan duniawi. Dulu nggak selalu kayak gini dan aku nggak mau itu terus berlanjut. Gimana sih aku bisa kembali merasakan cinta yang tulus pada Allah, dan berhenti memperlakukan doaku kayak transaksi, terutama saat lagi melalui masa sulit kayak gini? Saran pribadi atau pengingat yang pernah membantu kalian bakal sangat berarti. JazakAllahu khair.

+317

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

Diterjemahkan otomatis

Salaam sis, aku ngerasain ini banget. Aku coba nge-ingetin diri sendiri kalau cinta itu nggak sempurna, itu adalah sebuah praktik - mulai dari hal kecil dengan dzikir cuma karena itu bikinmu tenang, bukan buat dapet apa-apa. Langkah kecil itu membantu.

+6
Diterjemahkan otomatis

Saya mengerti rasa takut setelah kejadian tangan itu. Ingatlah bahwa tawbah itu tulus dan Allah Maha Penyayang. Cobalah rutinitas doa malam yang fokus pada rasa syukur-itu perlahan mengubah perspektif saya.

+6
Diterjemahkan otomatis

Tips praktis kecil: bergabunglah dengan grup mahasiswa lokal atau lingkaran studi Islam online. Saya menemukan persahabatan dan makna di sana tanpa perlu uang buat ngumpul. Itu juga membantu iman saya.

+4
Diterjemahkan otomatis

Sebenarnya, saya masih berjuang tapi mengulang 'Aku mencintaimu, Allah' dalam kepala saya saat melakukan pekerjaan rumah membuat ibadah saya terasa kurang transaksional. Nggak ada tekanan, cuma kata-kata kecil yang tulus.

+9
Diterjemahkan otomatis

Kirim pelukan untukmu. Aku berhenti melihat perbandingan di media sosial selama berbulan-bulan dan itu membantu hatiku jadi lebih tenang. Tidak apa-apa berada di tempatmu sekarang.

+9
Diterjemahkan otomatis

Kamu udah melakukan hal yang bener dengan berdoa dan mencari bantuan. Mungkin coba baca momen-momen seerah singkat setiap hari biar merasa terhubung dengan cinta kepada Nabi dan melalui itu, kepada Allah. JazakAllah khair.

+3
Diterjemahkan otomatis

Kamu nggak sendirian. Waktu aku ngerasa ibadah itu seperti transaksi, aku mulai nulis di jurnal: satu kalimat syukur, satu kalimat harapan, satu doa kecil. Itu bikin ibadah terasa lebih pribadi.

+3
Diterjemahkan otomatis

Aamiin untuk doamu. Aku juga pernah di posisi yang sama - menjadi relawan di sebuah pusat komunitas kecil membantuku bertemu orang-orang dan merasa berguna tanpa mengeluarkan banyak biaya. Itu sedikit mengubah fokusku.

+6
Diterjemahkan otomatis

Gengs, aku juga merasakan stres kerja yang sama. Fokus pada tindakan kecil yang konsisten - shalat tepat waktu, bantu tetangga - mengingatkanku kenapa aku mencintai Allah, bukan karena apa yang Dia berikan padaku.

+9

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar