Saya berhenti menunggu motivasi dan produktivitas saya meningkat dua kali lipat (nggak nyangka) - Salam
Salam - Dulu saya percaya bahwa saya harus merasa termotivasi sebelum melakukan sesuatu yang berguna. Kalau saya nggak dapat semangat itu, perasaan “oke, saya siap”, saya cuma nunggu. Scroll sedikit, nonton sesuatu, meyakinkan diri sendiri bahwa saya sedang memanaskan mesin. Sementara itu, tidak ada yang bergerak. Saya nggak menyadari betapa banyak waktu dan energi yang saya buang dengan menunggu perasaan yang tepat. Suatu hari, saya dengan tenang menghentikan kepercayaan itu. Nggak dramatis - lebih ke, jelas ini nggak jalan. Jadi saya berhenti bertanya “apakah saya termotivasi?” dan mulai melakukan versi terkecil dari pekerjaan itu. Nggak semuanya, cuma buka file atau nulis satu kalimat yang mungkin bakal saya tulis ulang. Banyak hari, saya masih nggak merasa termotivasi. Tapi begitu saya benar-benar melakukannya, rasa penolakan itu mulai mereda. Nggak sepenuhnya, tapi cukup. Kadang motivasi muncul di tengah perjalanan. Perubahan besar itu bukan trik disiplin baru atau rutinitas. Itu tentang pengertian bahwa motivasi bukanlah sinyal untuk memulai. Itu lebih seperti produk sampingan - kamu bergerak duluan dan kadang motivasi mengikuti. Produktivitas saya meningkat bukan karena saya tiba-tiba jadi luar biasa, tapi karena saya berhenti membiarkan suasana hati menentukan apakah saya harus mulai. Saya berhenti bernegosiasi dengan diri sendiri untuk “lima menit lagi” dan mulai dengan buruk, cuma untuk lihat apa yang terjadi. Saya masih punya hari-hari di mana saya nggak melakukan banyak hal. Tapi saya nggak nunggu lagi, dan itu mengubah lebih banyak dari yang saya harapkan. Update: JazakAllahu khairan buat semua yang berbagi tips. Beberapa ide teringat di saya: coba dapatkan satu kemenangan kecil di awal hari, dan benar-benar blok waktu di kalender saya, alih-alih nebak-nebak. Hal yang paling mengejutkan saya adalah menambahkan sedikit aplikasi yang membatasi scrolling tanpa pikir saat itu - kapan pun saya mencoba scroll, aplikasi itu mengunci saya dan nanya “Apakah kamu yakin?” dan tiba-tiba saya kayak… sebenarnya nggak. Itu adalah dorongan yang merendahkan dan membantu.