Menemukan Kekuatan dalam Iman dengan Disabilitas yang Kasat Mata
Sebagai seorang muslim yang hidup dengan disabilitas yang kasat mata, aku akhirnya menerima kondisiku. Nggak ada nasihat yang bermaksud baik atau kuliah Islam yang aku dengar yang benar-benar bisa menjawab kenapa aku diciptakan seperti ini. Aku ke masjid buat salat sebagai kewajiban, tapi seringnya langsung pulang setelahnya, nggak ikut pengajian atau doa bersama. Dalam hati, aku tahu kondisiku nggak akan berubah di kehidupan ini. Doa utamaku sekarang cuma, 'Ya Allah, ampuni aku dan berikan aku kesabaran.' Bertahun-tahun aku cari jawaban di buku dan dari ulama, tapi setelah 30 tahun, rasanya aku udah ngejar sesuatu yang nggak mungkin tercapai. Aku udah hidup halal, alhamdulillah, hindari dosa besar, jadi dulu aku bingung 'kenapa aku?'. Pikiran-pikiran itu bikin aku susah tidur, mempertanyakan eksistensiku sementara yang lain kayaknya nggak menghadapi ujian seperti ini. Sekarang, aku ngerti beberapa pertanyaan di dunia ini emang nggak akan terjawab. Aku punya pilihan: hidup dengan ini atau nggak. Aku terus bertahan demi orang tua, semoga Allah membalas mereka, meski kadang aku merasa jadi beban. Aku takut sama masa depan, apalagi kalau nanti ditinggal sendirian setelah keluarga meninggal. Yang aku minta dari Allah cuma sabar aja.