Mengapa banyak anak muda Iran seolah menjauh dari Islam sementara generasi tuanya tetap dekat dengan keimanan?
Assalamu alaikum, ini sering terlintas di pikiranku bahwa banyak sepupu muda dan teman keluarga yang sudah tidak shalat atau puasa di Ramadan lagi. Jujur saja, aku dan saudaraku merasa seperti aneh di sini di Barat, apalagi karena kami bahkan tidak bisa bahasa Farsi tapi tetap memegang teguh dien kami. Kakekku dan saudaranya, alhamdulillah, sangat teguh dalam shalat dan ibadah kepada Allah, tapi membingungkan melihat pergeserannya. Bahkan ayahku, yang usianya 50-an, tidak shalat, dan sepertinya hanya orang-orang yang benar-benar tua, seperti yang berusia 70 atau 80 tahun, yang rutin menjalankan kewajiban agamanya. Ayahku pernah bilang bahwa situasi politik di tanah air membuat sebagian anak muda membenci Islam, yang sungguh memilukan untuk didengar. Rasanya aneh dan sedih karena Islam adalah bagian yang indah dari identitas kami. Banyak di keluargaku yang berpendidikan tinggi, punya gelar, dan beberapa pindah ke luar negeri ke tempat seperti Kanada atau Eropa, meraih kesuksesan, alhamdulillah. Tapi kadang aku bertanya-tanya apakah fokusnya sudah terlalu bergeser ke dunia ini-bekerja keras, belajar, tapi mungkin melupakan akhirat. Ada juga tren menjadi sangat terpengaruh budaya Barat. Aku lihat saudara melakukan prosedur kosmetik, dan ada seorang bibi yang pindah ke Eropa sekitar tahun 2006 dulu berhijab di Iran tapi sekarang tidak lagi, dan dia sudah berhenti puasa serta praktik lain, bersama keluarganya. Seolah-olah ada yang memandang Muslim yang taat sebagai ketinggalan zaman dan berusaha sebisa mungkin menyatu dengan masyarakat Barat. Membuatku berpikir tentang teman-teman Sunni dari Aljazair dan Maroko yang datang ke Eropa-mereka mungkin kadang tergelincir, tapi mereka masih puasa di Ramadan, shalat, dan menjaga hubungan dengan Islam. Bagaimana pendapatmu tentang mengapa perbedaan itu terjadi?