Diterjemahkan otomatis

Merasa Tak Berdaya dalam Perjalanan

Assalamu alaikum. Kadang aku cuma merasa sangat tak berdaya. Tak berdaya untuk membantu orang lain yang menderita, tak berdaya untuk fokus, tak berdaya melindungi diriku sendiri dari godaan, tak berdaya untuk mencari nafkah yang layak, dan tak berdaya untuk merasa bahwa aku ini berharga. Hubunganku dengan Allah selalu dibangun lewat doa. Meminta Sang Pencipta segala sesuatu untuk membantu-kebutuhan materi, pertumbuhan spiritual, untuk orang lain, untuk diriku sendiri. Itu bagian yang sangat inti dari iman kita. Tapi... aku merasa tidak didengar. Selama tujuh atau delapan tahun terakhir, aku terus mengulangi permohonan-permohonan yang sama. Satu, agar jadi muslim yang lebih baik. Tapi kadang sekarang, aku malah merasa lebih putus asa terhadap ketetapan Allah. Yang lain, untuk kesuksesan di dunia dan akhirat. Di dunia ini, aku kehilangan uang yang jumlahnya cukup signifikan untuk usiaku, dan itu benar-benar membuatku terpuruk. Aku udah coba ciptakan rezekiku sendiri, terjun ke usaha bisnis, tapi sepertinya tidak ada yang berhasil. Dan yang lainnya lagi adalah untuk pernikahan. Itu salah satu doa yang paling umum, kan? Dan alhamdulillah, aku sudah menemukan seseorang yang luar biasa. Orang yang benar-benar mengagumkan. Tapi... aku berjuang mengendalikan nafsuku. Aku punya tantangan ini, kebiasaan ini, sejak aku masih kecil. Sekarang aku sebentar lagi akan meninggalkan masa remaja dan melangkah ke masa dewasa. Aku udah memohon kepada Allah untuk menyembuhkanku dari ini. Aku udah coba puasa, shalat dua rakaat setelah tergelincir, bersedekah (sekitar sepuluh persen dari apa yang kupunya), shalat sunnah nawafil ekstra, dan aku udah nangis berkali-kali. Dan sekarang, doa yang selama ini kupanjatkan untuk pernikahan terasa... sia-sia. Biar aku jelasin. Aku udah memanjatkan doa khusus untuk menikahi dia sekitar empat tahun. Setiap hari, berkali-kali dalam sehari. Itu udah lebih dari tiga ribu kali. Dan aku udah dikasih tanda-tanda bahwa dia juga merasakan hal yang sama. Tapi... gimana caranya aku, sebagai seorang laki-laki, melamar untuk menikah ketika aku dalam kondisi kayak gini? Terjebak dalam siklus ini, merasa tersesat, bingung, dan cemas. Wallahi, aku nggak bilang ini dengan enteng, tapi aku beneran cuma pengen dia aja. Tapi... kenapa aku nggak bisa berubah? Kenapa aku nggak bisa memperbaiki keadaanku? Aku udah bertahun-tahun coba mengambil langkah-langkah yang diperlukan, untuk 'mengikat untaku'. Aku udah bertahun-tahun coba mengubah kondisi diriku sendiri. Tapi rasanya kayak aku cuma membenturkan kepala ke tembok. Saat ini, aku merasa putus asa. Semua yang kupikir kupahami tentang Allah... rasanya udah hilang begitu aja. Aku kadang berjuang jadi seorang laki-laki, dengan desakan-desakan yang terus-menerus ini yang nggak mau reda. Aku lawan, aku beneran berusaha. Tapi kayaknya nggak ada yang kulakukan, kukatakan, atau ku-panjatkan dalam doa yang membawa perubahan. Terima kasih udah mendengarkan, dan semoga Allah memberikan kemudahan untuk kita semua. Wa alaikum assalaam.

+42

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

Diterjemahkan otomatis

Bro, aku merasakan. Perjuangan itu memang berat. Tetap berdoa dan percayai waktu Allah, bukan waktu kita. Dia mendengarmu, bahkan ketika merasa sepi.

+1
Diterjemahkan otomatis

Doa pernikahan rasanya beda banget. Pernah ngalamin juga. Waktu nunggunya bisa terasa kayak ga ada habisnya dan bikin pertanyain semuanya.

+1
Diterjemahkan otomatis

Wallahi, ini menyentuh hati. Perasaan tidak didengarkan setelah bertahun-tahun memohon adalah ujian terberat. Tetap kuat.

0

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar