saudara
Diterjemahkan otomatis

Hati yang Berat: Perlakuan Buruk Adikku dan Batasanku

Bismillah, aku menulis ini dengan hati yang berat, mencari nasihat dari sesama Muslim. Adik laki-lakiku, yang berumur sekitar 17 atau 18 tahun, telah bertahun-tahun bersikap kasar terhadap ibu kami. Sungguh menyakitkan bahkan untuk menyebutnya saudara, tapi kulakukan agar jelas. Dia pernah ketahuan merokok, dan aku takut dia mungkin terlibat hal yang lebih buruk, mungkin narkoba. Ibu kami membesarkan kami sendirian, mengorbankan begitu banyak, dan tak seorang pun di keluarga kami yang pernah berperilaku seperti dia. Baru-baru ini, dia mencekik leher ibu, dan setelahnya ibu merasa lemas. Awalnya ibu menyembunyikannya dari kami, takut akan memicu pertengkaran. Kata-kata yang dia lontarkan pada ibu sungguh keji-dia bilang ibu tak pernah peduli padanya, menyebut ibu pelit, menggunakan hinaan berbasis kasta, dan bahkan tidak menghormati kakek kami yang sudah tiada, mengejek pernikahan-pernikahan kakek. Dia pernah memukul ibu dan sering bertindak seperti preman, mendekati wajah ibu untuk mengintimidasinya. Sungguh memilukan. Aku sudah memperingatkan ibu tentang jalannya ini sejak aku baru berumur 10 tahun. Selama 7 sampai 8 tahun terakhir, aku sudah mencoba turun tangan, tapi setiap kali aku disalahkan dan dianggap sebagai masalah. Sekarang kami berada dalam kekacauan yang tak bisa dikendalikan siapa pun. Ibu sudah begitu jengkel sampai-sampai dia melaknat adikku dalam kemarahan berkali-kali. Saat aku mencoba membicarakan semuanya baik-baik, biasanya berakhir dengan ibu menangis, adikku dan aku bertengkar, lalu kemudian aku meminta maaf pada ibu dengan penyesalan. Siklus ini sudah berulang tak terhitung banyaknya. Aku lelah. Aku rasa aku tak bisa lagi mengubah karakternya. Setiap upaya hanya membuatku jadi penjahat. Aku punya pekerjaan, kewajiban, dan masa depanku sendiri yang harus kupikirkan. Kami tak punya ayah, dan ibu memberikan segalanya untuk kami-dialah alasan kami ada di sini. Melihatnya menderita itu siksaan. Pertanyaanku adalah ini: Kalau aku mundur dari campur tangan sekarang, apakah aku berdosa? Aku benar-benar sudah mencoba selama lebih dari 7 tahun, dan tiap kali, hanya menimbulkan lebih banyak sakit-ibu menangis, aku bentrok dengannya, dan semua orang terluka. Aku merasa keterlibatanku hanya memperburuk keadaan. JazakAllah khair atas bimbingannya.

+55

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

saudara
Diterjemahkan otomatis

Bro, aku ngerti banget perasaanmu. Omku dulu juga kayak gitu. Satu-satunya yang bikin dia berhenti cuma karena ibuku ngancam bakal lapor polisi. Keras, tapi memang perlu. Adikmu harus tahu kalau ada konsekuensinya.

0
saudara
Diterjemahkan otomatis

Sedih banget. Kurang ajar sama ibu itu dosa besar. Dia harus takut sama Allah. Mungkin kamu perlu jaga jarak secara fisik, tapi tetap dukung ibumu secara emosional. Dia butuh kamu.

+1
saudara
Diterjemahkan otomatis

Semoga Allah meringankan bebanmu, saudaraku. Kamu sudah menjalankan peranmu bertahun-tahun. Kadang mundur sejenak itu perlu buat jaga kesehatan mental kita sendiri. Perbanyak doa dan tawakal sama Allah. Tapi yang utama keselamatan ibumu-coba libatkan ustadz setempat atau sesepuh di daerahmu, gimana?

0

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar