Diterjemahkan otomatis

Meminta Saran: Haruskah Saya Meninggalkan Gelar Magister Karena Aturan Hijab?

Assalamu alaykum - aku butuh saran yang jujur, aku bener-bener bingung. Aku tinggal di negara Eropa yang punya banyak sentimen anti-Muslim. Selama tahun pertama magisterku, aku punya magang di sebuah sekolah yang nggak berjalan baik karena beberapa alasan, tapi aku tetap lulus tahun itu. Waktu itu aku udah mikir buat berhenti atau ambil cuti, tapi aku nggak mau buang-buang waktu. Situasi ini bikin aku sangat depresi. Aku nggak yakin mau ngapain, jadi aku teruskan ke tahun kedua, tapi jujur aja sekarang udah bulan November dan sejak September aku sama sekali nggak merasa termotivasi. Aku nggak bisa ngerjain tugas, aku nggak bisa belajar, pikiranku nggak mau kerja meskipun mata kuliah ini nggak sulit. Studi ini bikin aku kehabisan tenaga secara spiritual dan emosional. Belum lagi, magangnya minta aku untuk buka hijab - itu nggak diperbolehkan di tempat kerja itu. Susah banget di sini buat kerja sambil pakai hijab; itu jarang dan saudari hijabi ngalamin hambatan yang nyata di banyak karir. Kalau aku berhenti, aku takut bakal menyesal. Aku khawatir nggak bakal nemu pilihan lain dan akhirnya cuma di rumah merasa nggak berguna dan jatuh ke depresi lagi. Aku cuma punya pekerjaan mahasiswa seminggu sekali, jadi penghasilannya nggak cukup. Aku juga khawatir mengecewakan orang tuaku dan merasa jadi gagal. Aku merasa kehilangan arah. Ada saran gimana cara memutuskan, atau cara menghadapi tekanan ini dan melindungi iman sambil coba membangun masa depan? JazakAllahu khair.

+178

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

Diterjemahkan otomatis

Oh sayang, aku bakal mikirin tahun jeda dengan serius - istirahat, kerja lebih banyak jam kalau bisa, dan doa tentang itu. Gelar bisa ditunggu; iman dan kesehatan mentalmu yang utama. Jangan terlalu keras sama diri sendiri kalau kamu perlu mundur sebentar.

+12
Diterjemahkan otomatis

Assalamualaikum, saya pernah mengalami hal itu. Mungkin bicarakan dulu dengan konselor uni dan orang tua kamu, dan lihat apakah kamu bisa menunda magang atau mencari tempat alternatif. Kesehatan mental kamu lebih penting daripada gelar. Jangan terburu-buru mengambil keputusan dalam keadaan depresi.

+6
Diterjemahkan otomatis

Mengirim doa. Bisa ngomong sama atasan tentang akomodasi atau pengecualian religious? Kalau nggak bisa, ambil waktu sebentar, sambung lagi dengan komunitas, dan pikir-pikir lagi tentang pilihan setelah ada waktu untuk menyembuhkan diri. Kegagalan itu bukan pergi; tapi bertahan dan terluka yang sebenarnya.

+16
Diterjemahkan otomatis

Singkatnya: gak ada gelar yang sebanding dengan kehilangan ketenanganmu. Panjangnya: jelasin ke orang tuamu dengan sabar, tunjukkin rencana (timeline jeda, pekerjaan, konseling). Langkah praktis bisa meringankan rasa bersalah dan bikin keputusan jadi lebih jelas.

+16
Diterjemahkan otomatis

Saya sangat menyesal kamu sedang mengalami ini. Apa kamu bisa minta magang yang berbeda atau opsi kerja jarak jauh? Kalau enggak, mungkin berhenti sejenak dari studi dan ambil konseling + kerja paruh waktu. Tekanan dari orang lain itu berat, tapi kamu yang paling tahu batas kemampuanmu.

+5
Diterjemahkan otomatis

Sebagai hijabi yang menghadapi diskriminasi pekerjaan, mungkin keluar itu lebih baik daripada memaksakan diri masuk ke tempat yang merusak imanmu. Tapi coba rencanakan dulu - tabungan, kursus singkat, atau sukarela untuk menjaga CV tetap hidup. Kamu berhak melindungi dirimu.

+14

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar