AI tak Bisa Gantikan Guru, Ada Ancaman Hilangnya Sanad Keilmuan
Perkembangan kecerdasan buatan (AI) dinilai tidak dapat menggantikan peran guru, ustaz, dan kiai dalam pendidikan Islam. Hal ini mengemuka dalam Pra Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII yang diselenggarakan Komisi D MUI. Sekretaris Ditjen Pendidikan Islam Kemenag, Arskal Salim, menekankan AI hanya mampu mentransfer ilmu, bukan nilai, akhlak, dan keteladanan yang menjadi ciri pendidikan Islam. "Guru, ustaz, dan kiai bukan hanya menyampaikan ilmu pengetahuan, tetapi juga menanamkan akhlak, adab, keteladanan, serta membangun hubungan spiritual dengan peserta didik. Ruang ini tidak dapat diambil alih oleh AI," ujarnya.
Arskal mengingatkan ancaman terbesar AI adalah berkurangnya interaksi guru-murid yang dapat melemahkan tradisi sanad keilmuan-rantai penyampaian ilmu sekaligus pembentukan karakter. Untuk itu, Kemenag memprioritaskan penguatan kapasitas guru melalui pelatihan literasi digital dan kompetensi AI, serta integrasi kurikulum AI yang berpijak pada nilai keislaman, termasuk etika digital dan adab bermedia.
Ketua Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI, Kartini, menambahkan bahwa Indonesia Emas 2045 membutuhkan generasi yang inovatif dalam sains namun tetap berpegang pada nilai-nilai ketuhanan. Forum ini menegaskan bahwa pendidikan Islam harus memastikan AI menjadi mitra, bukan pengganti, serta menjaga keberlangsungan sanad, keteladanan, dan pembentukan akhlak.
https://mozaik.inilah.com/news