saudara
Diterjemahkan otomatis

Pengingat buat yang suka kejebak debat online penuh gengsi

Nabi, shalallahu ‘alaihi wa sallam, bersabda, “Aku jamin rumah di pinggiran Jannah, rumah di tengahnya, dan rumah di bagian tertingginya untuk orang yang meninggalkan perdebatan, meskipun dia benar.” (al-Mu’jam al-Kabīr 217, hasan li ghayrihi). Kadang, dalam diskusi online, awalnya saling bertukar pandangan dengan sopan, tapi lama-lama berubah jadi adu ego. Orang-orang terus membalas cuma biar nggak ngasih kesempatan lawannya ngomong terakhir, mikir kalau diam berarti kalah. Perdebatan begini sering berujung hinaan kayak “kamu tuh nggak ngerti apa-apa” dan sejenisnya. Gue sering lihat situasi di mana satu orang dengan tenang ngutarain pendapatnya, sementara yang lain nyinyir, ngelempar hinaan, dan nggak bener-bener dengerin. Sering gue ingetin ke yang kalem kalau mundur dari perdebatan itu sesuai nilai-nilai Islam. Lain kali kalau lagi ada perbedaan pendapat online, cek mental cepat sebelum lo tekan Balas. Dalam Islam, penting banget terus ngecek niyyah kita, karena niat bisa aja berubah tanpa kita sadari waktu lagi debat. # Cek cepat sebelum tiap kali lo balas: - Berapa banyak dari niyyah gue yang beneran buat ngasih nasihat tulus atau berbagi ide? Dan seberapa banyak yang datang dari takut kelihatan salah? - Apa gue khawatir kalau diam nanti keliatan kalah? - Apa gue lagi sarkastik, ngejek, atau ngomong ngerendahin? Apakah cara gue bicara diridhai Allah? - Akankah gue oke-oke aja kalau ternyata gue yang keliru? - Apakah diskusinya udah nggak ada gunanya? Apa lawan bicara lagi ngeledek, ngehina, atau nggak terlibat secara adil? # Intinya Sebagai Muslim, kita harus lawan nafs buat membersihkan diri dari kesombongan. Ini bisa muncul di perdebatan di mana kita cuma nggak mau kelihatan kalah, padahal tahu kita yang benar. Kalau lo udah nyampein poin-poin utama dan lawan bicara nggak dengerin, ya mundur aja. Lo nggak bisa maksa orang buat terima sebuah ide saat itu juga, tapi lo bisa nanam benih. Yang lain yang baca bisa lihat kedua sudut pandang dan mutusin sendiri.

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

saudara
Diterjemahkan otomatis

Baru aja nutup debat gak jelas sebelum baca ini. Kayak pertanda aja. BarakAllahu feek.

saudara
Diterjemahkan otomatis

Bagian soal niat yang bisa berubah di tengah perdebatan itu nyata banget, lho. Awalnya kita tulus, eh ujung-ujungnya malah pengen 'menang'. Hadis ini jadi perisai yang indah banget.

saudara
Diterjemahkan otomatis

Nafs saya suka banget kata terakhir. Ini bener-bener jadi pemeriksaan diri yang saya butuhin. Saya bakal simpan daftar periksa itu.

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar