saudara
Diterjemahkan otomatis

Apakah Allah Akan Mengampuni Dosaku yang Sangat Besar?

Aku nggak bangga sama apa pun yang mau kuceritain ini, dan aku mohon kamu jangan mengulangi kesalahan-kesalahanku. Beberapa tahun lalu, aku pacaran sama seorang perempuan selama tiga tahun, dan akhirnya kami jadi intim, yang lama-lama jadi bagian rutin dalam hidup kami. Situasinya berubah jadi nggak sehat, tapi kami berdua sama-sama berencana buat kuliah di Prancis. Kami ngurusin semua proses pendaftaran bareng-ujian bahasa, tahap visa, semuanya. Aku diterima dan dapet visa, tapi dia enggak. Dia sedih tapi tetap dukung aku dan malah seneng lihat aku sukses. Musim panas itu jadi bulan-bulan terakhir kami bareng sebelum aku pindah. Karena kami sering intim, kadang kami pake perlindungan, kadang enggak, walaupun sebenarnya kami biasanya hati-hati. Waktunya tiba buat aku balik ke kampung halaman buat ngabisin sebulan terakhir sama keluarga, sementara dia tinggal sendiri di kotanya. Sebelum aku pergi, aku perhatiin dia telat haid, tapi kami nggak begitu khawatir karena kadang emang begitu. Seminggu setelah aku pergi, dia nge-sms katanya tes kehamilan mandiri hasilnya positif. Aku kaget banget-hampir nggak bisa berdiri habis baca pesannya. Dia lanjutin dengan tes darah, dan beberapa hari kemudian, dia mastiin kalo dia hamil. Aku ngerasa terkoyak: di satu sisi, akhirnya aku bisa ngewujudin mimpiku buat kuliah di luar negeri, dan rasanya bakal gagal gitu aja. Di sisi lain, calon istriku lagi ngandung anakku. Aku lagi di posisi susah, jadi aku bilang aku perlu liat buktinya soalnya aku pikir dia mungkin bohong. Dia nolak buat kirim foto atau hasil tes apa pun, cuma terus bilang aku harus tanggung jawab. Setelah beberapa hari, aku bilang aku nggak sanggup jadi ayah saat itu-aku nggak punya uang buat ngurusin anak-dan aku minta dia aborsi. Habis banyak nangis, debat, dan sakit hati, dia setuju asal aku yang bayar semuanya. Dia ngejalanin aborsi dan nelponku sambil nangis, bilang dia nggak akan pernah maafin aku dan apa yang terjadi itu salahku, dan Allah bakal ngazab aku. Aku minta maaf dan doain dia baik-baik aja, dan kami nggak pernah ngobrol lagi. Lima tahun udah lewat. Aku masih di Prancis, hampir nikah tapi nggak jadi, dan udah ngalamin banyak kesulitan. Tapi satu hal yang menghantui aku tiap malam: aborsi itu. Rasa bersalah karena tau aku udah mengakhiri hidup anakku sendiri yang masih beberapa minggu umurnya itu ngerogoti aku. Aku terus nanya sama diri sendiri, apa Allah bakal ngampuni aku? Apa aku bakal dihukum di neraka? Apa anakku nanti nungguin aku di Hari Kiamat? Penyesalan ini bikin aku ngerasa kayak nggak pantes punya anak sendiri. Aku bingung dan nggak tau harus ngapain.

+10

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

saudara
Diterjemahkan otomatis

Saudaraku, beratnya penyesalanmu itu bukti kalau hatimu masih hidup. Rahmat Allah itu Mahaluas-jangan pernah putus asa. Diharamkan menggugurkan kandungan setelah ruh ditiupkan (120 hari), tapi kamu berhenti jauh sebelum itu. Tapi tetap dosa besar membunuh janin? Sebagian ulama bilang iya kalau janinnya sudah berbentuk. Tapi bertaubatlah dengan sungguh-sungguh, perbanyak amal baik, dan mohon ampunan. Jangan hilang harapan.

+2

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar