saudari
Diterjemahkan otomatis

Bingung hubungan ibu-anak yang seimbang seperti apa setelah dia kehilangan ayahku

Assalamu alaikum. Aku perempuan 21 tahun dan aku benar-benar butuh sudut pandang dari luar. Aku sudah nggak bisa membedakan lagi apakah aku ini anak yang nggak tahu terima kasih atau aku sedang memikul beban yang seharusnya bukan milikku. Ayahku meninggal lima tahun lalu, semoga Allah merahmatinya. Sejak itu, ibuku jelas sekali berjuang. Dia sendirian, dan aku mengerti itu. Aku nggak menyalahkan dia karena merasa kesepian atau ingin anak-anak perempuannya dekat. Tapi belakangan hubungan kami jadi benar-benar tegang. Aku mencoba mencari tahu di mana batas antara mendukung ibumu dan merasa bertanggung jawab atas kondisi emosionalnya. Aku tinggal bersama ibuku dan adik perempuanku. Adikku kerja berjam-jam dan dia yang bayar tagihan-tagihan. Aku kerja paruh waktu, bantu-bantu pekerjaan rumah, dan kuliah di universitas. Kami benar-benar berusaha merawat dia dan membuat hidupnya nyaman. Tapi ibuku merasa kami nggak cukup meluangkan waktu bersamanya. Dia ingin kami ngobrol dengannya setiap hari, dalam waktu yang lama. Dia kesal kalau kami diam di dekatnya. Kadang dia membangunkanku di pagi hari untuk sarapan bersama, padahal dia tahu aku punya insomnia dan aku kelelahan. Kalau dia makan sendirian, dia bilang kami memperlakukannya "seperti anjing." Aku nggak tahu harus bagaimana menghadapi itu. Karena aku benar-benar sudah berusaha. Aku sudah mengajaknya ke pantai. Dia menolak. Aku sudah mengajaknya ngopi. Kadang dia nggak mau pergi. Saat aku pulang, aku kerjakan pekerjaan rumah, mandi, menyapa dia, duduk bersamanya, dan ngobrol tentang apa pun yang muncul secara alami. Tapi akhirnya percakapan itu selesai. Kadang aku cuma ingin ke kamar, main HP, ngobrol sama teman, nonton sesuatu, atau sekadar diam. Dan bahkan itu pun jadi masalah. Kalau dia melihatku main HP ngobrol sama teman, dia bilang, "Kamu punya waktu buat orang lain tapi nggak buat aku." Dia terutama nggak suka sama sahabatku, dia pikir teman itu mencoba menarikku menjauh dari keluarga atau memecah belah kami. Aku nggak merasa temanku begitu. Aku pikir aku cuma... 21 tahun. Aku punya teman, kuliah, kerja, dan hal-hal yang kusukai. Aku ingin membangun hidupku sendiri, insyaAllah. Baru-baru ini aku bilang ke ibuku kalau aku ingin menyewa tempat sekitar 30 km dari rumah karena kuliah. Perjalananku sekarang sekitar 3 jam sekali jalan-enam jam sehari-dan itu membuatku lelah sekali. Aku ingin lulus, kerja, membangun karier, dan mungkin nanti pindah lebih jauh atau bahkan ke luar kota. Tapi dia menanggapi ide aku pindah itu dengan sangat buruk. Dia terus bilang ayahku meninggalkannya dan sekarang dia butuh kami untuk merawatnya. Aku mengerti kenapa dia merasa begitu. Dia kehilangan suaminya dan dia kesepian. Aku nggak ingin mengabaikan rasa sakitnya. Tapi aku ini anak perempuannya. Aku mencoba memberinya kehidupan yang lebih baik, membantu di rumah, membuat segalanya lebih mudah. Tapi aku nggak bisa menggantikan orang yang hilang darinya. Dan aku nggak bisa selalu siap secara emosional. Kadang aku benar-benar nggak punya apa-apa untuk dibicarakan. Kadang aku cuma ingin duduk di ruangan yang sama diam-diam. Kadang aku ingin makan terpisah. Kadang aku ingin tidur. Kadang aku ingin ngobrol sama teman. Kadang aku ingin pergi ke kampus tanpa merasa bersalah karena meninggalkannya. Aku terus bertanya pada diriku sendiri: Apakah normal kalau hubungan ibu-anak yang sehat itu termasuk momen diam? Bisakah kamu sangat menyayangi ibumu tapi tetap kadang nggak ingin bicara? Bisakah kamu berada di rumah yang sama dan melakukan urusanmu sendiri tanpa itu berarti menelantarkan? Seberapa besar tanggung jawab seorang anak perempuan dewasa atas kesepian ibunya? Pada titik mana mendukung ibumu berubah menjadi memiliki kondisi emosionalnya? Aku Muslim, jadi ini juga rumit secara agama buatku. Aku benar-benar ingin jadi anak yang baik dan memenuhi kewajibanku terhadap ibuku. Aku nggak ingin tidak sopan atau durhaka. Aku berencana bicara dengan seorang imam tentang ini, dan aku juga sedang konsultasi ke terapis untuk membantu sisi emosionalnya. Aku bukan mencari orang-orang yang bilang ibuku jahat atau aku harus memutuskan hubungan. Aku sayang ibuku. Aku cuma nggak tahu seperti apa hubungan ibu-anak yang sehat ketika anak perempuannya sudah dewasa. Aku ingin ada untuknya. Aku cuma nggak ingin kehilangan hidupku sendiri karena berusaha membuktikan bahwa aku ada. Aku sangat menghargai kalau ada yang mau berbagi pengalaman serupa, terutama yang sudah kehilangan pasangan atau orang tua dan menghadapi dinamika keluarga seperti ini. Bagaimana caranya menyeimbangkan menyayangi dan mendukung ibumu sambil tetap punya kehidupanmu sendiri? Dan apakah sebenarnya boleh sesekali hanya ada bersama dalam diam? Jazakum Allahu khairan.

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Berbicara dengan imam adalah langkah yang bagus. Dalam Islam, kamu harus berbakti tapi itu bukan berarti kamu tidak bisa punya kehidupanmu sendiri. Kamu bisa mencintainya dan tetap tinggal 30 km jauhnya untuk kuliah. Terus yakinkan dia tentang rasa sayangmu, sering-seringlah menjenguk kalau memungkinkan, dan libatkan dia dalam rencanamu supaya dia tidak merasa ditinggalkan.

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar