Trump Tolak Proposal Damai Iran, Sebut Negara Itu Hadapi Krisis Kepemimpinan
Usaha perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran kembali terbentur setelah Presiden Donald Trump menyatakan ketidakpuasan terhadap proposal terbaru dari Teheran. Proposal Iran mengusulkan agar pembahasan program nuklir ditunda hingga perang berakhir dan sengketa pelayaran di Teluk terselesaikan, sementara Trump meminta isu nuklir dibahas sejak awal. Dalam pernyataannya di Truth Social, Trump mengutip pesan yang diklaim dari Iran bahwa negara itu berada dalam 'Keadaan Keruntuhan' dan meminta pembukaan Selat Hormuz secepatnya untuk menyelesaikan masalah kepemimpinan. Iran sendiri belum memberikan tanggapan resmi.
Dinamika negosiasi semakin kompleks menyusul tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei pada hari pertama perang, yang digantikan putranya, Mojtaba Khamenei. Pergantian ini diyakini memperkuat pengaruh komandan garis keras dari Islamic Revolutionary Guard Corps, membuat sikap Iran dalam perundingan lebih keras. Rencana kunjungan utusan AS Steve Witkoff dan Jared Kushner ke Pakistan juga dibatalkan, sementara Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi aktif bolak-balik ke Islamabad membawa proposal.
Perang yang dimulai 28 Februari telah memicu pembatasan lalu lintas kapal di Selat Hormuz oleh Iran dan blokade AS terhadap kapal-kapal Iran. Dampaknya terasa pada pasar energi global, dengan harga minyak mentah Brent naik hampir 3% menjadi sekitar US$111 per barel. Bank Dunia memperkirakan harga energi bisa melonjak hingga 24% pada 2026 jika gangguan berlanjut. Ketegangan juga meningkat di antara negara produsen minyak Teluk, ditandai dengan laporan keluarnya Uni Emirat Arab dari OPEC dan OPEC+.
https://www.gelora.co/2026/04/