Kisah Letusan Gunung Api Hancurkan Kota Sodom Akibat Perbuatan Kaum Homoseksual
Kisah kehancuran kaum Nabi Luth AS, yang secara historis dan arkeologis sering diidentikkan dengan kota Sodom dan Gomorah, merupakan salah satu narasi paling menakutkan dalam tradisi monoteisme. Dalam khazanah keagamaan, kisah ini bukan sekadar dongeng masa lalu, melainkan tesis teologis tentang konsekuensi fatal dari degradasi moral, kesombongan, dan penolakan terhadap kebenaran.
Dalam Islam, kisah ini diabadikan dalam berbagai surah Al-Qur’an, seperti Al-A’raf, Hud, dan Al-Hijr. Penduduk Sodom digambarkan mencapai titik nadir dalam kebejatan moral, dengan praktik homoseksualitas yang dilakukan secara terang-terangan sebagai dosa utama. Selain itu, mereka juga melakukan perampokan, kezaliman terhadap tamu, dan kikir. Puncak pembangkangan terjadi saat mereka mengepung rumah Nabi Luth untuk menuntut tiga malaikat yang menjelma sebagai pemuda tampan.
Azab terhadap kaum Luth digambarkan dalam Al-Qur’an dengan detail visual yang mengerikan: kota dijungkirbalikkan dan dihujani batu dari tanah yang terbakar (sijjil). Beberapa mufasir, termasuk Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar, menganalogikan fenomena ini dengan letusan gunung berapi eksplosif disertai gempa tektonik. Sementara itu, geologi modern mengajukan hipotesis gempa bumi raksasa yang memicu ledakan aspal dan belerang di kawasan Laut Mati.
Penelitian arkeologi di situs Tall el-Hammam juga mengajukan hipotesis ledakan udara akibat hantaman meteor, meskipun makalah ilmiah tersebut telah ditarik oleh jurnal Nature pada 2023. Hingga kini, belum ada konsensus ilmiah mutlak, tetapi semua teori sepakat bahwa kawasan Laut Mati pernah mengalami bencana kataklismik yang mengubahnya menjadi gurun garam yang mati. Pesan moral kisah ini tetap relevan: keadilan ilahi pasti datang sebagai peringatan bagi setiap peradaban.
https://www.harianaceh.co.id/2