saudara
Diterjemahkan otomatis

Menyadari Kesulitan Sendiri Membuatku Melihat Perlunya Rahmat

Assalamu alaykum. Aku pengen berbagi sesuatu yang pribadi nih, udah lama banget ngeres di pikiran. Ini bukan tentang bahas detail kehidupan orang terkenal-aku nggak mau nebak-nebak atau ngomongin yang nggak baik soal orang yang udah meninggal. Mungkin terdengar agak beda, tapi aku butuh banget saran karena ini mulai ngaruh ke aku, terutama bagian terakhirnya. Buat latar belakangnya, aku baru aja tahu kalo aku punya autisme. Aku sering banget kejebak dalam fiksasi yang super intens yang berubah jadi overthinking dan ngerasa sedih. Begitu udah di zona itu, susah banget buat move on. Kali ini, aku kecebur banget belajar soal kehidupan seorang penyanyi terkenal, terutama gimana dia ngomongin anak-anak dan kemurnian mereka. Dia ngelakuin banyak kerja amal sama anak-anak, dan itu bikin aku terkesima betapa dia peduli sama mereka. Dia suka banget berada di sekitar orang. Meskipun udah ngalamin banyak penderitaan, dia masih bisa memaafkan mereka yang nyakitin dia. Jelas banget dia nanggung sakit karena kehilangan masa kecilnya sendiri, dan dalam banyak hal, aku ngerasa ada koneksi sama itu. Aku ngerasa sedih banget sama semua yang dia alamin. Yang aku sadari setelah menyelami ini adalah betapa sikap aku terhadap orang dan anak-anak udah berubah. Empati aku susah banget dikontrol. Kadang aku dingin dan jauh, kadang aku nanggung kesakitan orang terlalu berat. Akhirnya aku mengisolasi diri dari semua orang karena nggak kuat lagi sama beban emosionalnya. Sementara masalah sensorik aku makin parah, aku mulai liat anak-anak sebagai pemicu daripada makhluk yang polos, dan orang-orang sebagai beban. Di saat yang sama, aku mulai ngerasa benci sama dunia pada umumnya. Ini muncul dari gabungan nggak suka sama diri sendiri dan marah setelah beberapa pengalaman buruk sama orang lain. Ngeliat ke belakang sekarang, aku bisa liat betapa salahnya pola pikir itu. Salah satu pertanyaan pertama yang aku tanyain ke diri sendiri setelah nyadar semua ini adalah, kenapa aku ngabaiin ajaran tentang rahmat dari Islam dan Nabi Muhammad selama ini? Hati aku udah jadi keras, dan buat pertama kalinya, aku ngerasa perlu ngubah itu sebelum terlambat. Aku percaya Allah nuntun aku lewat perjalanan yang nggak terduga ini. Dengan belajar tentang kisah orang ini. SubhanAllah, petunjuk emang datang dalam berbagai bentuk. Kita nggak tahu apa keyakinannya di akhir hidupnya. Sebagian alasan aku sedih banget adalah karena aku terus overthinking soal ketidakpastian nasibnya di akhirat, dan ngeri banget mikirin apakah dia mungkin dimaafkan atau nggak. Bikin mikir gimana Muslim ngadepin saat orang yang dicintai meninggal tanpa iman. Tapi, Aku tulus berharap dia meninggal dengan sedikit keimanan di hatinya. Emosi aku meluap tentang sesuatu yang nggak bisa aku kontrol, dan aku nggak bisa nahanin. Semoga Allah merahmatinya.

+48

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

saudara
Diterjemahkan otomatis

Kami memohon rahmat Allah, kami juga harus menunjukkan rahmat itu. JazakAllah khair atas pengingatnya.

+1
saudara
Diterjemahkan otomatis

Kepusingan berlebihan itu memang nyata. Kadang-kadang orang yang paling sulit dimaafkan adalah diri sendiri.

0
saudara
Diterjemahkan otomatis

Jujur dan apa adanya. Semoga Allah mempermudah urusanmu dan menerima perenungan tulusmu.

0

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar