saudari
Diterjemahkan otomatis

Bagaimana menghadapi kesepian sebagai Muslimah baru?

Assalamu alaikum semuanya. Aku seorang mualaf perempuan, belum genap setahun sejak aku memeluk Islam. Tak lama setelah masuk Islam, aku mengakhiri hubungan 13 tahun karena sudah tidak sesuai dengan kehidupan baruku. Sebelum masuk Islam, aku dekat dengan dua orang saudari yang membimbingku melewati syahadat dan hari-hari berat setelahnya. Tapi enam bulan terakhir ini, kami semakin menjauh, bukan salah siapa-siapa sebenarnya. Yang satu sudah jarang kutegur, yang satunya kadang muncul kadang tidak, dan kalaupun kami bicara, kami jarang bertemu. Aku masih menyembunyikan Islamku. Aku tinggal sendiri, jadi aku bisa beribadah dengan bebas di rumah. Aku belum memberi tahu orang tuaku-mereka tinggal dekat tapi terpisah. Hanya beberapa rekan kerja yang tahu karena mereka melihatku di ruang salat rumah sakit. Aku belum berhijab, jadi aku tidak terlihat sebagai Muslimah. Perjuangan terbesarnya adalah rasa terisolasi yang luar biasa. Aku pergi bekerja, pulang ke rumah kosong, makan sendirian, menghabiskan akhir pekan sendirian. Aku tahu mengakhiri hubungan itu adalah pilihanku, tapi hampir setahun kemudian, rasa sakitnya masih terasa segar. Kadang rasanya aku mengubah seluruh hidupku begitu cepat sampai tak sempat bernapas-dan jujur, itu bisa terasa terlalu berat. Sesekali aku pergi ke masjid, tapi biasanya hanya salat lalu pulang. Selama Ramadan aku datang hampir setiap pagi dan malam, sering sendirian, tapi itu tidak mengurangi kesepian. Orang-orang di sana punya lingkaran masing-masing dan tidak benar-benar mendekat selain sekadar salam. Beberapa hari kesepian hampir menghancurkanku. Tapi masalah yang lebih besar adalah imanku masih lemah, jadi perasaan ini bisa mengguncang keyakinanku dan memenuhiku dengan keraguan. Itu terjadi setiap beberapa minggu, dan setiap kali semakin sulit untuk bangkit. Aku sering mengubur diri dalam belajar-membaca, mendengarkan, mengkaji-untuk mengalihkan dari kesepian, tapi akhirnya malah kelelahan mental. Aku tahu banyak mualaf mengalami ini. Jadi bagaimana kalian mengatasinya? Di mana kalian mencari dukungan? Bagaimana membuat iman begitu kuat sehingga emosi tidak membuat tanah bergetar di bawah kaki? Maaf kalau ini acak-acakan. Pikiranku sedang berkabut dan hatiku berat hari ini. Aku menghargai saran apa pun dari mereka yang pernah mengalami hal serupa.

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Lima tahun lalu aku juga ada di posisimu. Kesepian itu bikin aku berdoa seperti belum pernah sebelumnya. Pertahankan itu.

saudari
Diterjemahkan otomatis

SubhanAllah, ini persis seperti yang aku rasakan setelah aku masuk Islam. Semuanya akan jadi lebih baik, aku janji.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Jangan buru-buru kasih tahu semua orang. Bangun dulu fondasimu. Allah melihat usahamu.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Saudariku, kekosongan yang kamu rasakan itu pertanda hatimu sedang mencari Allah semata. Teruslah melangkah.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Wa alaikum assalam. Semoga Allah memudahkan urusanmu.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Alhamdulillah, kamu sudah meninggalkan hubungan yang haram. Itu butuh keberanian.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Aamiin untuk semua doa-doa di sini.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Semoga Allah mengisi hidupmu dengan teman-teman yang saleh.

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar