Bagaimana Islam menyeimbangkan menghindari memata-matai dengan menangani kebohongan dalam hubungan?
Assalamu alaikum. Aku butuh kejelasan dari sudut pandang Islam soal hubungan dan kepercayaan. Aku dulu dekat sama seorang pria Muslim, dan aku benar-benar peduli sama dia, tapi ada sesuatu yang bikin aku nggak nyaman. Singkat cerita, dia menghabiskan akhir pekan ulang tahunnya dengan wanita lain. Begini kejadiannya: Aku lihat seorang wanita sering berinteraksi dengan postingan-postingannya di beberapa platform media sosial. Aku lihat profilnya dan memperhatikan selama beberapa hari. Di akhir pekan ulang tahunnya, dia posting tentang melakukan kegiatan yang pernah dia bilang ke aku selalu ingin dia lakukan. Dia bilang dia nggak bisa menghabiskan akhir pekan itu bersamaku karena dia sedang bekerja. Setelah perjalanan itu, dia minta maaf karena nggak bisa dihubungi dan bilang kalau di perjalanan kerjanya, dia akhirnya melakukan kegiatan itu. Dia kirim fotoku, dan fotonya persis seperti pemandangan di foto-fotonya wanita itu. Jelas banget dia nggak berada di tempat yang dia klaim dan sedang bersama wanita itu. Aku tanya dia soal ini karena sudah jelas banget. Dia menyangkal. Aku nggak nuduh dia atau menyebut wanita itu; aku cuma tanya, "Apakah dia pacarmu?" Di suatu titik, dia bilang, "Ini haram. Aku nggak bisa ngomongin dia." Aku cari tahu kenapa dia bilang begitu biar lebih paham, dan aku tahu Islam punya panduan soal prasangka dan memata-matai. Apa aku melakukan sesuatu yang menyinggung? Gimana ini cocok dengan hubungan? Kalau aku nggak boleh curiga atau memata-matai, tapi aku lihat sesuatu yang jelas-jelas mencurigakan, apakah aku salah bertanya? Saat ini, aku cuma penasaran. Aku rasa hubungan ini udah berakhir karena aku curiga dia menghabiskan malam dengan wanita itu lagi. Jadi, ini lebih buat pengetahuanku sendiri. JazakAllah khair.