Dari Keraguan ke Iman: Perjalanan Kembali ke Islam
Salaam semuanya. Aku lahir sebagai Muslim, tapi aku meninggalkannya, dan setelah pencarian panjang, aku menemukan jalan kembali. Dibesarkan di keluarga Muslim, bahasa Arab dan Islam adalah pusatnya. Ayahku, seorang penyair, mendorongku membaca sejak dini, dan aku suka buku-buku tentang Nabi (saw) dan para sahabatnya. Tapi seiring bertambah usia, aku mulai mempertanyakan segalanya. Aku melihat bagaimana orang, bahkan orang tua dan guru, bisa salah atau mengikuti ego mereka. Aku merasa dikecewakan oleh orang-orang, akademisi, dan akhirnya bahkan agama. Sebagai dewasa muda, aku menghasilkan uang dari freelance, tapi rasanya kosong. Aku menyerah pada seluruh ide "dapat pekerjaan, pakai jas" dan akhirnya jadi tunawisma selama bertahun-tahun, cuma berjalan, berpikir, dan mencari jawaban. Aku melakukan hal-hal yang tidak kubanggakan-minum, merokok, berbohong-tapi di dalam, aku masih merasa terdorong untuk berbuat baik dan membantu orang lain. Aku menghabiskan berbulan-bulan membaca filsafat, psikologi, AI, fisika kuantum, dan teks-teks Islam, sambil memohon petunjuk pada Tuhan, meskipun aku tidak menjalankan ibadah. Perlahan-lahan, semuanya mulai masuk akal. Aku perhatikan bagaimana alam semesta, otak kita, dan bahkan AI mengikuti pola: mereka mengurangi ketidakpastian dengan menghilangkan kemungkinan yang salah untuk mengungkapkan kebenaran. Partikel kuantum tetap dalam banyak keadaan sampai interaksi memaksa satu hasil-mirip dengan cara otak kita memprediksi apa yang terjadi selanjutnya berdasarkan pengalaman. Dan AI memprediksi dengan membuang opsi yang tidak mungkin untuk menemukan yang paling cocok. Lalu aku melihatnya. Islam mengajarkan kita untuk hidup dengan niat dan fokus-mengucapkan Bismillah sebelum makan, berdoa untuk kesabaran, percaya bahwa hanya Allah yang tahu yang gaib. Nabi kita (saw) membimbing kita untuk bertindak dengan penuh kesadaran, tidak menuruti hawa nafsu secara buta. Sistem ini mengurangi kekacauan di hati kita, sama seperti alam semesta mengurangi ketidakpastian setiap saat. Aku bukan ulama, dan mungkin ada kelemahan dalam pemikiranku. Tapi setelah semua pencarian ini, aku percaya pada satu Tuhan dan bahwa Islam adalah kebenaran yang Dia kirimkan melalui para rasul-Nya. Semoga Allah menerima usaha kita dan membimbing kita semua.