saudari
Diterjemahkan otomatis

Merasa Hilang Setelah Perceraian Ini, Mencari Petunjuk

Assalamu'alaikum. Hati saya sungguh berat saat ini. Sudah beberapa minggu sejak suami saya dan saya bercerai, dan saya masih berusaha memahami semua perasaan yang sangat membebani ini. Pernikahan kami hanya bertahan delapan bulan. Kami memang punya perbedaan pendapat, tapi menurut saya tidak ada yang tidak bisa diperbaiki. Saya menyarankan kami mencoba konseling atau mengambil waktu untuk refleksi, tapi dia menolak. Saya memohon padanya agar memberi kita kesempatan lagi, mengingatkannya betapa sakralnya nikah itu dan bahwa perceraian seharusnya jadi opsi terakhir. Saya nggak tahu sudah berapa lama dia memikirkan ini. Dia sempat pergi untuk itikaf dan bicara dengan seseorang yang menyarankannya untuk menceraikan saya. Waktu dia datang mengunjungi saya di rumah orang tua saya, saya senang sekali. Saya sudah siapin hadiah sambutan dan bunga. Orang tua saya juga sudah beliin dia hadiah. Saya benar-benar berkomitmen untuk membangun masa depan bersama. Dia baik saat datang, dan kami berhubungan intim. Keesokan harinya, kita cuma beda pendapat kecil soal pengaturan tempat tinggal. Orang tua saya coba bantu, tapi dia malah mulai mengkritik karakter saya, sifat saya yang emosional, dan penyesuaian saya terhadap kehidupan pernikahan-hal-hal yang belum pernah dia bahas sama saya sebelumnya. Dia buat seolah-olah butuh dukungannya itu adalah masalah. Saya udah berusaha semaksimal mungkin jadi istri yang baik. Saya masak tiap hari, belajar masakan favoritnya, berpakaian sesuai yang dia suka, dan menjamu keluarga dan teman-temannya. Saya di rumah berjam-jam tanpa mengeluh, meskipun kita nggak punya mobil. Banyak janji yang nggak ditepati-kaya mau pergi Umrah bareng atau beli mobil-tapi saya tetap sabar. Saya bahkan urus sendiri proses perjalanan dan imigrasi yang sulit demi dia. Saya lakukan banyak hal untuk keluarganya, pikir saya itulah yang dilakukan istri yang setia. Saya sangat merindukan rumah pertama kami. Rasanya seperti ruang saya sendiri, dan hati saya sakit merindukannya. Lama kelamaan, saya jadi kehilangan diri dalam pernikahan ini, selalu berusaha melihat dari sudut pandangnya sementara dia hampir nggak tertarik pada pikiran atau perasaan saya. Waktu saya sebut soal punya anak, dia nggak bilang apa-apa. Tadinya saya kira ini cuma tantangan normal, sesuatu yang bisa kita atasi bareng, tapi sekarang saya sadar nggak ada koneksi emosional atau rasa aman yang nyata di antara kami. Percakapan kami selalu di permukaan-soal film atau jalan-jalan-nggak pernah tentang harapan terdalam kita atau masa lalu. Dia menghindari pembicaraan serius dan bakal diam membeku kalau ada konflik. Yang paling menyakitkan itu cara dia menangani semuanya. Dia bahas akhir pernikahan kita dengan orang lain, bukan datang ke saya. Dia datang, berhubungan intim, terus pergi. Dia janji bakal kembali untuk saya, tapi nggak. Waktu orang tua saya minta kepastian, dia nggak bisa kasih. Ibu saya curiga dia nggak jujur. Nanti, dia telepon ayah saya untuk secara resmi mengakhiri pernikahan. Orang tua saya hancur, dan respons keluarganya atas kesedihan mereka tuh dingin banget, nggak nyangka. Ini bikin bingung, tapi saya masih aja kangen dia dan jadi seorang istri. Ada momen-momen di mana saya merasa oke, ngurusin tugas-tugas kecil tiap hari, tapi tiba-tiba saya bisa merasa kewalahan dan menghabiskan hari dengan nangis. Saya udah dikeluarin dari grup komunitas, yang artinya orang lain udah tahu soal perceraian ini. Dulu saya pimpin diskusi Islam di komunitas itu, dan sakit rasanya kontribusi dan karakter saya dianggap nggak ada. Sulit percaya seseorang bisa memperlakukan komitmen nikah dengan semudah itu. Saya merasa seperti sampah yang dibuang. Di hati, saya tahu Allah bersama saya, bahwa ada hikmah di balik ini, dan Dia akan memberi balasan atas kesabaran saya. Saya percaya ini berkah tersembunyi, tapi rasa sakitnya tetap sangat nyata. Ayah saya sekarang pakai pengalaman saya sebagai cerita peringatan untuk saudara-saudara saya, yang nambahin kecemasan saya tentang menghadapi masyarakat sebagai janda. Saya nggak tahu gimana cara keluar dari titik terendah ini. Apa normal kalau masih bergumul dengan perasaan ingin dihargai dan diinginkan setelah pernikahan berakhir? Saran apa pun akan saya hargai. Jazakumullah khairan.

+35

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Ini membuat hatiku sakit membacanya. Kamu terdengar seperti seorang istri yang sangat penyayang dan sabar. Itu sepenuhnya kerugiannya. Allah telah merencanakan sesuatu yang jauh lebih baik untukmu, sis.

+3
saudari
Diterjemahkan otomatis

Begitu banyak dari ini yang relatable. Kamu melakukan semua yang benar. Cara dia meninggalkan setelah intimacy... itu benar-benar kejam. Mengirimmu banyak doa.

+1

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar