Kembali merasa berharap setelah perjalanan sulit, tapi beberapa kekhawatiran masih tersisa.
Assalamu alaikum semuanya, Saya seorang ikhwan berusia 28 tahun yang tinggal di Skandinavia. Saya benar-benar mulai menemukan jalan saya sekitar Ramadan lalu, saat saya 27 tahun-bisa dibilang agak telat berkembang. Sejak itu, saya sudah berusaha keras untuk deen saya: mengikuti kelas Islam, belajar Tajwid, dan Alhamdulillah, saya merasa berkembang pesat dalam waktu singkat. Ramadan kemarin, saya berhasil puasa setiap hari dan bahkan melakukan itikaf sepuluh hari terakhir, yang pertama kalinya buat saya dalam beberapa tahun. Saya masih rutin ikut kelas sekitar tiga kali seminggu, dan sekarang punya visi hidup yang jauh lebih jelas. Tantangan terbesar saya saat ini adalah mengurangi media sosial, tidak terlalu banyak overthinking, dan menghindari junk food saat sedih-sebagai gantinya, saya coba ingat untuk kembali kepada Allah. Setahun setengah terakhir ini cukup sepi. Saat saya mengubah hidup, dari punya banyak teman jadi hampir tidak punya sama sekali. Tapi sekarang, pelan-pelan, saya mulai membangun lingkaran sosial yang berpusat pada Islam. Sebenarnya gampang saja kembali ke cara hidup lama, tapi Alhamdulillah, saya tetap sabar dan berpegang pada iman, percaya bahwa Allah akan memberi balasan atas usaha itu pada waktunya. Masa sepi itu mengajarkan banyak hal tentang diri saya-yang baik dan yang buruk-dan cara bekerja untuk membersihkan hati. Hubungan dengan keluarga sedikit membaik, meskipun masih ada masalah. Saya dari keluarga besar, tapi tidak terlalu akrab. Keluarga inti saya berusaha beribadah, tapi komunikasi sangat kurang. Suasana di rumah kurang nyaman, dan setiap kali saya berkunjung, biasanya saya yang harus membereskan karena saudara-saudara saya tidak banyak membantu. Itu sering bikin saya frustrasi, dan saya akui kadang hilang kesabaran, bahkan dengan ibu-saya mungkin bicara kasar, lalu langsung menyesal dan minta maaf. Jadi ya, menghadapi keluarga adalah ujian besar berikutnya. Saya tahu tidak bisa mengendalikan mereka, tapi tetap saja overthinking. Orang tua saya semakin tua; saya lihat ibu tidak punya energi seperti dulu, mungkin itulah sebabnya dia tidak bisa menangani saudara-saudara saya seperti sebelumnya. Rasa frustrasi saya lebih tentang situasinya daripada ibunya sendiri. Kami pernah ada rapat keluarga di mana semua setuju untuk lebih membantu, tapi tidak ada yang benar-benar berubah. Kadang saya merasa malu dengan cara keluarga saya hidup dan memperlakukan satu sama lain. Alhamdulillah, setidaknya di bagian keluarga kami, kami tetap di jalan yang halal dan fokus pada pendidikan. Tapi ayah punya istri dan keluarga lain di negara lain, dan pihak itu bergumul dengan kecanduan dan beberapa masalah kriminal. Separuhnya sudah berhasil berubah, Alhamdulillah, tapi separuh lainnya masih sangat bergumul. Saya tidak bisa tidak merasa bertanggung jawab dan ingin menyelamatkan mereka semua, tapi saya juga ingin fokus pada hidup sendiri, menikah, dan melanjutkan karier. Sulit untuk tidak merasa terbelah. Dan jujur, kadang saya khawatir siapa yang mau menikah ke dalam situasi keluarga yang rumit seperti ini. Ayah saya sekarang umur 70-an, dan saya mulai melihat tanda-tanda demensia. Menakutkan memikirkan masa depan dan siapa yang akan menanganinya. Dia juga tidak terlalu beribadah, dan saya khawatir waktu untuk dia bertaubat dan kembali kepada Allah semakin singkat. Waktu kecil, banyak hal jatuh ke pundak saya karena ayah tidak ada. Itu membuat saya cepat matang, tapi juga mengambil sebagian masa kecil saya. Saudara-saudara saya ingat masa kecil kami bahagia, tapi saya tidak terlalu karena saya sadar semua hal yang terjadi di belakang layar. Saya tidak ingin bertanggung jawab lagi untuk mereka, tapi di saat yang sama, merasa tidak bisa begitu saja pergi. Saudara termuda saya 13 tahun, yang lainnya sudah 20-an, tapi mereka masih datang ke saya untuk jawaban meskipun saya terus bilang mereka perlu bertanggung jawab sendiri. Tidak benar-benar berencana menulis semua ini, tapi terasa lega mengeluarkannya. Saya tidak punya siapa-siapa untuk diajak bicara tentang ini, jadi semuanya menumpuk. Maaf kalau agak berantakan-hanya berharap mungkin ada yang relate atau punya saran. Tolong doakan saya dan keluarga untuk tetap di jalan yang lurus. JazakAllah khair sudah membaca.