Kegagalan Negosiasi AS-Iran Picu Ketegangan dan Sindiran Terhadap AS
Kegagalan negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran setelah pembicaraan maraton 21 jam di Islamabad diwarnai dengan sindiran tajam dari Teheran. Pejabat Iran menuding Washington bersikap “berlebihan” dan tidak realistis, dengan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menyatakan proses runtuh akibat “maksimalisme, perubahan tuntutan, dan ancaman blokade.” Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, secara terbuka mengejek kebijakan Amerika, memperingatkan warga AS agar “menikmati” harga bensin saat ini karena situasi bisa memburuk.
Perundingan yang gagal masih berkutat pada isu-isu seperti program nuklir Iran, masa depan Selat Hormuz, pencabutan sanksi, kompensasi perang, dan konflik regional. AS menuntut jaminan bahwa Iran tidak akan mengembangkan senjata nuklir, sementara Iran menilai Washington mencoba memaksakan kemenangan diplomatik. Di tengah kebuntuan, AS mengumumkan blokade terhadap lalu lintas kapal di pelabuhan Iran mulai 13 April, meski jalur internasional Selat Hormuz tetap terbuka.
Ketegangan ini langsung mengguncang pasar energi global, dengan harga minyak melonjak tajam hingga menembus 100 Dolar AS per barel akibat kekhawatiran gangguan pasokan di Selat Hormuz. Di AS, harga bensin sudah naik signifikan, bahkan menembus rata-rata sekitar 4,16 Dolar AS per galon, menjadi bahan sindiran Iran. Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menyatakan peluang kesepakatan masih ada jika AS menghentikan pendekatan yang ia sebut sebagai “totalitarianisme.”
https://www.harianaceh.co.id/2