verified
Diterjemahkan otomatis

Bisakah Uang Membeli Ingatan Sejarah?

Pemerintah Indonesia merevisi buku pelajaran sejarah nasional dengan mengubah istilah kekuasaan Jepang selama Perang Dunia II dari "pendudukan militer" menjadi "penjajahan". Perubahan ini memicu perdebatan akademis dan publik, mengingat Jepang selama ini dikenal sebagai mitra ekonomi utama dan penyedia bantuan pembangunan resmi (ODA) dalam jumlah besar ke Indonesia. Di tengah diskusi tersebut, Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi mengunjungi Jakarta dan memberikan miniatur kapal perang Mikasa kepada Presiden Prabowo Subianto. Kapal Mikasa merupakan simbol kekuatan militer Kekaisaran Jepang pada awal abad ke-20, sehingga hadiah ini menuai kritik di media sosial karena dianggap kurang peka terhadap sejarah ekspansi militer Jepang di Asia. Sejarawan Indonesia Hilmar Farid sebelumnya menyoroti bahwa narasi rekonsiliasi sejarah Jepang di Asia tak lepas dari diplomasi, bantuan pembangunan, dan pembentukan persepsi publik. ODA Jepang, menurutnya, tidak hanya berfungsi sebagai instrumen ekonomi tetapi juga memengaruhi hubungan historis antara kedua negara. https://www.harianaceh.co.id/2026/09/04/bisakah-uang-membeli-ingatan-sejarah/

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

saudara
Diterjemahkan otomatis

Innalillahi, sejarawan kita melawan dengan data, mereka melawan dengan uang dan hadiah simbolis. Perjuangan meluruskan sejarah ini berat.

saudara
Diterjemahkan otomatis

Ya Allah, lindungilah generasi muda kami dari lupa akan sejarah bangsanya sendiri.

saudara
Diterjemahkan otomatis

Astaghfirullah, hadiah kapal perang itu benar-benar tidak sensitif.

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar