saudara
Diterjemahkan otomatis

Menyeimbangkan orang tua Hinduku, keyakinanku, dan pernikahanku kelak sebagai mualaf

Assalamu alaikum, saudara-saudari yang kusayangi. Aku seorang mualaf Muslim asal India, besar di Jerman. Seluruh keluargaku mengikuti agama Hindu dan orang tuaku benar-benar lekat dengan keyakinan serta warisan budaya mereka. Setelah bertahun-tahun mencari, aku memeluk Islam hampir dua tahun lalu alhamdulillah. Aku memberi tahu orang tuaku awal tahun ini, dan itu memicu banyak masalah, dengan pertengkaran besar dan waktu-waktu panjang di mana mereka nyaris nggak mau bicara sama aku. Akhirnya aku pindah ke tempat sendiri. Meski begitu, aku berusaha sekeras mungkin untuk tetap baik dan jadi anak yang berbakti. Alhamdulillah, sekarang keadaannya lebih baik. Mereka tahu aku Muslim tapi mereka nggak benar-benar menerimanya kami cuma menghindari topik itu sama sekali. Hubunganku sama ibuku sudah dekat lagi, dan aku benar-benar nggak mau kehilangan dia atau keluargaku. Tapi aku serius soal agamaku: aku salat lima waktu. Aku udah janji sama orang tuaku bahwa aku nggak akan sengaja menunjukkan ibadahku di depan mereka, demi menjaga ketenangan. Aku ibadah dengan bebas di rumah. Ini kekhawatiran pertamaku: di mana Islam menarik batas antara menjaga silaturahmi dengan orang tua non-Muslim dan mengorbankan kewajiban agamaku? Misalnya, waktu aku berkunjung, aku kadang menunda atau menggabung salat karena aku takut salat di rumah mereka. Apa yang seharusnya dilakukan seorang mualaf? Aku nggak mau masalah keluarga sampai menyeretku mengabaikan salat, tapi aku juga nggak mau merusak hubungan yang udah kami bangun lagi. Kekhawatiran yang lebih besar adalah soal pernikahan. Aku bermimpi menikahi seorang Muslimah yang taat dan membangun rumah tangga Muslim. Tapi orang tuaku, mereka nggak mau ada Nikah atau kehidupan keluarga Islami buatku. Cepat atau lambat, mereka harus menerima inshaAllah bahwa istriku akan Muslim dan anak-anak kami akan tumbuh dengan Islam. Aku tahu aku nggak bisa menghindari mengecewakan mereka sepenuhnya. Tujuanku adalah menghindari drama yang nggak perlu tanpa mengorbankan imanku. Tapi aku khawatir jadi nggak adil buat calon istriku. Dia bakal masuk ke situasi yang sulit. Aku nggak pernah mau jadi suami yang terus-terusan bilang kayak, "Jangan bersikap begini di dekat orang tuaku," atau "Sembunyikan itu karena ibuku bakal kesal." Aku nggak mau memaksa dia mengorbankan Islamnya cuma demi menjaga kedamaian dengan keluargaku. Kadang aku bahkan bertanya-tanya apakah ini harus memengaruhi siapa yang kunikahi. Maksudku, haruskah aku mencari seseorang yang paham soal mualaf atau punya latar belakang serupa? Atau dan aku nggak nyaman memikirkan ini apakah menikahi Muslimah taat yang nggak pakai hijab bakal bikin semuanya lebih lancar, karena imannya mungkin nggak terlalu kelihatan awalnya? Aku bahkan nggak yakin apakah punya pikiran kayak gini salah. Aku juga mempertanyakan apakah aku cuma bakal jadi beban buat seorang istri. Aku bakal jujur soal keluargaku sebelum ada komitmen apa pun, tapi apa nggak adil menarik seorang Muslimah yang taat ke dalam situasi ini? Dalam hati, aku mencoba cari tahu: gimana caranya aku tetap jadi Muslim yang baik, menaati perintah Allah, sambil jadi anak yang menyayangi orang tua Hinduku dan suami yang teguh tanpa mengurangi hak-hak Islami istriku cuma buat menyenangkan orang tuaku? Di mana batasnya di mana peduli sama orang tua harus berhenti waktu itu bentrok sama kewajibanku ke Allah atau hak-hak calon istriku? Dan secara praktis, gimana caranya aku perlahan-lahan mengarah ke pernikahan, Nikah dan punya anak ketika orang tuaku begitu menentang Islam? Aku nggak mencari alasan buat melunakkan praktik ibadahku atau menempatkan keluarga di atas Allah. Aku cuma sungguh-sungguh ingin tahu gimana menghadapi semuanya dengan hikmah, tanpa kehilangan keluargaku secara sia-sia. JazakAllahu khayran buat saran apa pun terutama dari para ulama, sesama mualaf, atau siapa saja yang pernah mengalami ini.

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

saudara
Diterjemahkan otomatis

Batas soal ikatan keluarga itu jelas: bersikap baik dan adil, tapi jangan pernah kompromi soal agamamu. Menunda salat karena takut itu bukan solusi yang bisa bertahan lama. Salat aja di ruangan kosong kalau perlu, tapi tetap jalankan kewajibanmu ke Allah. Dia bakal jaga hubungan itu kalau memang baik buatmu.

saudara
Diterjemahkan otomatis

Kamu terlalu mikirin soal hijab calon istri, dan itu jalan licin banget. Cari aja wanita yang agamanya kuat, bukan yang kurang jelas. Seorang hijabi tetap bisa menjaga amal ibadahnya tanpa harus mencolok di depan orang tuamu kalau memang perlu, tapi kekuatan imannya bakal jadi pegangan buat kalian berdua.

saudara
Diterjemahkan otomatis

Ikatan dengan ibumu memang berharga, tapi jangan sampai rasa sayang padanya bikin hak-hak istrimu terabaikan. Buat batasan sejak awal dengan cara yang baik. Jelaskan ke calon istrimu kalau kamu bakal lindungin dia dari ekspektasi yang gak realistis. Itu bagian dari jadi seorang qawwam.

saudara
Diterjemahkan otomatis

Kak, menjamak salat saat berkunjung itu dibolehkan kalau ada alasan kuat seperti tekanan keluarga. Tapi jangan sampai jadi kebiasaan sampai akhirnya benar-benar ninggalin salat ya. Iman tetap yang utama, tapi lakukan dengan cara yang halus aja. Semoga Allah membalas niat baikmu.

saudara
Diterjemahkan otomatis

Saya juga seorang mualaf, dan saya paham betul rasanya kayak berjalan di atas tali. Kalau soal nikah, jujurlah dari awal sama calon pasangan tentang situasimu. Ada lho, akhwat yang cukup dewasa untuk hal kayak gini. Jangan meremehkan dirimu sendiri-istri yang salehah bisa mengatasinya, insya Allah.

saudara
Diterjemahkan otomatis

La hawla wa la quwwata illa billah.

saudara
Diterjemahkan otomatis

Semoga Allah meringankan bebanmu, saudaraku.

saudara
Diterjemahkan otomatis

Amin.

saudara
Diterjemahkan otomatis

Allahumma barik.

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar