Alhamdulillah untuk Semua Kesulitan
Sejak aku lahir, ayahku ragu kalau aku ini anak kandungnya karena aku nggak mirip sama dia. Pas umur sepuluh tahun, dia masukin aku ke sekolah asrama, dan selama lima belas tahun berikutnya aku kebanyakan di sekolah, kuliah, dan universitas. Selama itu, aku hidup cuma makan makanan kaki lima yang murah karena kami nggak punya uang, dan aku sering kelaparan. Aku tetap kurus dan merasa nggak ada yang benar-benar peduli sama aku seperti yang aku butuhin. Sekarang aku takut kalau aku kena penyakit parah, dan semua kenangan ini muncul lagi. Ibuku juga nggak pernah benar-benar dukung aku; dia terobsesi sama harta duniawi. Aku anak laki-laki satu-satunya mereka, tapi aku sering merasa dibenci, diabaikan, dan nggak diinginkan. Aku tanya diri sendiri: Apa salahku? Kenapa aku harus ngalamin semua ini? Kenapa aku dilahirin? Ayahku itu dokter. Pas aku ngeluh susah mikir atau capek, dia cuma bilang, "Itu anemia," tapi nggak pernah bawa aku ke klinik atau periksa. Kayaknya dia nggak peduli sama sekali. Waktu remaja, aku sangat butuh orang tuaku. Aku telepon mereka berkali-kali, tapi biasanya nggak diangkat. Aku butuh mereka di tahun-tahun penting, dan mereka nggak ada. Aku marah. Aku benci ayahku dan istrinya. Mereka egois dan gagal jadi orang tua pas aku paling butuh. Aku bawa luka dan dendam yang dalam, tapi aku nggak bisa mengabaikan betapa itu sangat memengaruhiku. Tapi, aku coba ingat kalau Allah nggak akan ngasih beban ke hamba-Nya melebihi kemampuannya. Mungkin cobaan-cobaan ini memang buat nguatin aku. Aku berdoa untuk kesembuhan dan kemampuan buat memaafkan, walau itu susah.