Refleksi Jujur tentang Tauhid dan Kesalahpahaman tentang Reinkarnasi
Assalamu alaikum, saudara-saudari yang kusayangi. Beberapa waktu lalu, aku menemukan pertanyaan dari seorang saudara Hindu yang bertanya-tanya kenapa dia harus baca Al-Quran kalau dia sudah percaya pada Tuhan Yang Esa. Waktu sebagian dari kami coba jelaskan, dia menunjuk ke kitab Upanishad sebagai kitab suci yang murni dan menolak penyembahan berhala. Itu poin yang wajar, tapi kitab-kitab itu juga mengandung ide reinkarnasi, yang merupakan keyakinan yang keliru. Begini, sekadar menyembah Tuhan Yang Esa dan melakukan perbuatan baik, tapi berpikir bisa naik ke status lebih tinggi lewat perbuatan itu dan akhirnya mencapai Nirwana-itu, bagiku, malah lebih meresahkan daripada berbuat dosa lalu bertobat. Tobat artinya kita berserah diri kepada Allah Yang Maha Kuasa, dengan keyakinan bahwa ampunan hanya datang dari-Nya. Tapi pola pikir yang lain menganggap perbuatan baik bisa membuatmu jadi seperti tuhan. Itulah inti dari syirik, dosa besar. Aku lahir dari keluarga Hindu-Brahmin, dan aku masuk Islam bertahun-tahun lalu waktu kuliah. Aku sering dengar orang Hindu terpelajar bilang mereka sungguh-sungguh percaya pada tauhid, sementara penyembahan berhala cuma buat yang "kurang terpelajar". Mereka mengklaim semua jalan baik-baik saja dan mereka hanya menyembah Tuhan Yang Esa. Tanggapanku: kamu sudah setengah jalan, tapi kalau masih pegang reinkarnasi dan gagasan bahwa jiwamu bisa menyatu dengan Brahman, itu kesalahan besar. Nggak ada manusia yang bisa dibandingkan dengan Sang Pencipta, Yang Maha Esa, Maha Pengampun, Maha Penyayang. Aku tantang orang paling suci di India sekalipun untuk menciptakan seekor lalat sederhana. Mereka nggak bisa-dan mereka tahu mereka nggak bisa. Jadi mereka seharusnya takut pada api Hari Kiamat. Perbuatan baikmu harusnya untuk menyenangkan Allah semata, bukan untuk mengejar reinkarnasi yang lebih tinggi. Kita cuma punya satu kehidupan, bukan yang tak terbatas, dan kita semua akan dihakimi oleh Allah. Sebesar biji sawi kebaikan akan terlihat, dan sebesar biji sawi keburukan akan terlihat. Ngomong-ngomong, kamu nggak bisa benar-benar percaya reinkarnasi tanpa menerima sistem kasta. Pesan Islam jelas: Allah menciptakan kita untuk saling mengenal, dan yang paling mulia di antara kita adalah yang paling bertakwa-kesalehan dan ketakwaan. Itu nggak ada hubungannya sama kelahiran.