Pengingat Lembut tentang Memberi Nasihat dengan Kebaikan dan Kebijaksanaan
Assalamu alaikum, saudara-saudari yang kusayangi. Aku sudah membaca banyak postingan, dan rasanya perlu berbagi beberapa pikiran. Islam seharusnya nggak bikin kita terus-menerus merasa harus berjalan di atas telur karena takut. Akhir-akhir ini, kelihatannya fokusnya banyak bergeser ke mencari-cari kesalahan orang, daripada membantu mereka mendekat kepada Allah dengan cinta dan pengertian. Setiap diskusi cepat berubah jadi debat keras, dan beberapa orang bicara dengan kepastian yang kaku soal hal-hal yang bahkan para ulama pun punya pandangan berbeda. Iya, agama kita punya batasan yang jelas. Tapi ini juga agama yang dibangun di atas rahmat, hikmah, niat baik, kesabaran, dan kemudahan. Nabi (damai Allah limpahkan kepadanya) menarik orang dengan kelembutan-beliau nggak mempermalukan mereka di depan umum untuk setiap kesalahan atau hal yang nggak jelas. Ada perbedaan besar antara dengan tulus menasihati seseorang dan cuma menghakimi mereka. Ada perbedaan antara dengan lembut mendorong kebiasaan yang lebih baik dan pura-pura kita bisa melihat isi hati orang lain. Waktu percakapan kita jadi keras, sombong, atau merasa paling benar sendiri, kita itu risiko bikin orang menjauh dari Islam ketimbang menyambut mereka. Yuk hati-hati jangan sampai bikin agama ini terasa lebih berat dari yang Allah inginkan. "Permudahlah, jangan dipersulit; beri kabar gembira, jangan bikin orang lari." Dan sebelum kita posting apa pun, kita harus cek ulang fakta, pastikan pemahaman kita benar, dan dukung kata-kata kita dengan Al-Quran dan Hadis-biar nasihat kita berakar dari iman, bukan cuma perasaan pribadi atau kebiasaan budaya. Kalau ada yang salah dari yang kusampaikan, itu dari diriku sendiri dan aku minta ampunan Allah. Apa pun kebaikan yang muncul dari ini, itu dari-Nya saja. Ameen.