saudara
Diterjemahkan otomatis

15 Obat untuk Meredakan Kesedihan Hati

As-Salaamu Alaikum. Sebelumnya saya pernah share tulisan serupa dan banyak yang bilang itu membantu mereka. Yang ini lebih panjang sedikit, tapi inshaAllah, saya berdoa semoga bisa mendukung siapa pun yang sedang melalui masa-masa sulit. Setiap dari kita pasti punya cerita tentang duka. Mau dia kaya atau miskin, sehat atau sedang berjuang, sendiri atau sudah menikah, nggak ada manusia yang bebas dari sedih. Tapi kesedihan, kalau diabaikan dan nggak ditangani, bisa tumbuh dan menenggelamkan kita, memenuhi hati, melemahkan badan, dan menjebak kita dalam tangisan serta kekhawatiran yang tak ada habisnya. Imam Ibnul Qayyim mencatat bahwa Al-Qur'an hanya menyebut kesedihan untuk melarangnya, seperti "janganlah kalian bersedih," atau untuk meniadakannya, seperti "tidak ada rasa takut pada mereka." Rahasianya adalah, kesedihan menghalangi kita dari bergerak maju dan nggak membawa kebaikan sama sekali buat hati. Nggak ada yang lebih bikin setan senang selain menjadikan seorang mukmin sedih, supaya mereka berhenti dari perjalanan menuju Allah dan berhenti melakukan amal-amal baik. Nah, berikut ini ada 15 nasihat. Semoga Allah menjadikannya penghibur buat yang gelisah, obat buat yang patah hati, dan kekuatan buat pergulatan batin yang kita semua hadapi. **Pertama:** Selalu ingat bahwa yang mengizinkan ujian ini terjadi padamu adalah Allah, dan penghambaan sejati itu ya tunduk pada apa yang Dia pilihkan buatmu, menerimanya dengan hati yang ridha. Allah berfirman, "Tidak ada musibah yang menimpa kecuali dengan izin Allah. Dan siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk pada hatinya." 'Alqamah menjelaskan bahwa ini tentang seseorang yang tertimpa kesulitan tapi tahu itu datangnya dari Allah, maka dia menerima dan rida. **Kedua:** Ingat, yang memilihkan kesulitan ini untukmu adalah Yang Maha Penyayang, yang peduli padamu lebih dari ibumu sendiri. Dia Yang Maha Bijaksana, ingin memberi manfaat padamu dengan cara yang mungkin nggak bisa kamu pahami. Para nabi paham betul soal ini. Ayyub berseru, "Kesengsaraan telah menimpaku, dan Engkau Yang Maha Penyayang di antara para penyayang." Ya'qub, saat kehilangan putranya, berkata, "Allah adalah penjaga terbaik, dan Dia sebaik-baik penyayang." Ingatlah siapa yang mengujimu: Allah Yang Maha Penyayang dan Maha Bijaksana, yang menginginkan kebaikan untukmu lebih dari yang kau inginkan sendiri. **Ketiga:** Sadarilah bahwa kesulitanmu sebenarnya adalah obat yang Allah kirimkan padamu dengan penuh kasih sayang. Obat itu pahit sifatnya-terimalah dan jangan tunjukkan ketidaksukaan atau ketidaksabaran, kalau nggak, penyembuhannya nggak akan berhasil. Imam Ibnul Qayyim berkata, "Kalau Allah menginginkan kebaikan buat seseorang, Dia memberinya dosis ujian dan cobaan, membuatnya memuntahkan penyakit-penyakit batin yang berbahaya, sampai mereka bersih dan siap untuk tingkat tertinggi dalam kehidupan ini-yaitu ibadah kepada Allah-dan balasan tertinggi di akhirat-melihat Allah dan mendekat pada-Nya." Seringkali, seorang pendosa yang sombong dihentikan oleh musibah yang membuatnya rendah hati. Lalu dia jadi ahli salat, Qur'an, doa, dan kebaikan. Percayalah bahwa obat dari ujian ini menghilangkan penyakit-penyakit yang mungkin nggak kamu sadari, tapi perlu dibersihkan. **Keempat:** Mereka yang paling menderita justru yang paling dekat dengan Allah. Nabi (sallallahu 'alaihi wa sallam) pernah ditanya, "Siapa yang paling berat ujiannya?" Beliau menjawab, "Para nabi, lalu yang paling mirip dengan mereka, lalu yang semisal berikutnya. Seseorang diuji sesuai kadar imannya. Kalau imannya kuat, ujiannya bertambah; kalau lemah, diringankan. Seorang hamba terus diuji sampai ia berjalan di atas bumi tanpa dosa." Itulah kenapa sebagian ulama kita terdahulu bilang: "Siapa yang tertimpa musibah, maka dia sudah ditempatkan di jalan para nabi." **Kelima:** Ujianmu adalah tanda bahwa Allah menghendaki kebaikan buatmu. Nabi (sallallahu 'alaihi wa sallam) bersabda, "Ketika Allah menginginkan kebaikan pada seseorang, Dia percepat kesulitannya di dunia ini, tapi kalau Dia menghendaki selain itu, Dia tunda penderitaannya untuk diberikan sepenuhnya di Hari Kiamat." Al-Fudhail bin 'Iyadh berkata, "Allah merawat hamba-Nya yang beriman lewat ujian, seperti seseorang merawat keluarganya dengan kebaikan." Dia juga bilang, "Kalian nggak akan merasakan iman yang sejati sampai kalian melihat ujian sebagai berkah dan kemudahan sebagai bencana." **Keenam:** Pahami bahwa Allah mungkin menginginkan derajat tertentu di Surga buatmu, tapi amalmu nggak sampai ke sana, jadi Dia bantu kamu lewat ujian. Nabi (sallallahu 'alaihi wa sallam) bersabda, "Kalau Allah menetapkan suatu derajat di surga buat seorang hamba yang nggak bisa dicapai oleh amalnya, Dia mengujinya lewat kesehatan, harta, atau anak, lalu mengilhaminya kesabaran, sehingga ia mencapai derajat itu." Ketika kamu sadar bahwa kekhawatiran dan kesulitanmu sebenarnya adalah lift untukmu di akhirat, akan jauh lebih mudah untuk ditanggung. **Ketujuh:** Ingat, beban terberat dalam hidup dan sesudahnya adalah dosa, dan keadaanmu saat ini justru aktif menghapusnya. Nabi (sallallahu 'alaihi wa sallam) bersabda, "Tidak ada penderitaan, sakit, kekhawatiran, kesedihan, atau bahkan tusukan duri yang menimpa seorang mukmin kecuali Allah hapuskan sebagian dosa-dosanya." Beliau juga bersabda, "Ketika seseorang jatuh sakit, Allah mengirim dua malaikat dan berkata, 'Dengarkan apa yang mereka katakan pada para penjenguk.' Kalau mereka memuji Allah dan berbicara baik, Allah berfirman, 'Hamba-Ku punya janji: kalau Aku ambil nyawanya, dia dapat surga; kalau Aku sembuhkan, Aku akan ganti daging dan darahnya dengan yang lebih baik, dan hapus dosa-dosanya.'" Para pendahulu kita biasanya saling memberi selamat setelah sembuh, bilang, "Selamat atas pensucian ini." Nggak cuma kesulitan meringankan dosa, tapi juga menambah amal baik. Nabi (sallallahu 'alaihi wa sallam) bersabda, "Ketika mereka yang hidup dalam kemudahan melihat balasan bagi yang menderita di dunia ini, mereka akan berharap kulit mereka dipotong dengan gunting." Itu sebabnya sebagian ulama bilang, "Tanpa ujian, kita akan bertemu Allah dengan tangan kosong." Imam Ibnul Qayyim menyebut seorang wanita salehah yang kehilangan satu jari tapi malah tersenyum. Ditanya kenapa, ia jawab, "Manisnya pahala membuatku lupa pahitnya sakit." Imam Ibnu Qudamah berkata, "Kalau seorang raja bilang pada orang miskin, 'Setiap kali aku pukul kamu dengan tongkat kecil ini, aku kasih 1000 dinar,' orang itu pasti pengen dipukul terus, bukan karena nggak sakit, tapi karena hasil yang dia harapkan." **Kedelapan:** Apa yang menimpamu terjadi karena dosa-dosamu sendiri. Allah berfirman, "Musibah apa pun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri." Jadi, daripada cuma bersedih, kembalilah pada taubat, karena itu kunci utama untuk menangkal musibah. Ali (semoga Allah meridainya) berkata, "Setiap ujian datang karena dosa dan hanya pergi karena taubat." **Kesembilan:** Sadarilah bahwa apa yang menimpamu memang sudah ditakdirkan terjadi dan nggak bisa dihindari. Semua ini sudah tertulis ribuan tahun sebelum langit dan bumi diciptakan. Allah berfirman, "Tidak ada musibah yang menimpa di bumi atau pada dirimu sendiri kecuali sudah dalam Kitab sebelum Kami wujudkan-sungguh, itu mudah bagi Allah." Makhluk pertama yang Allah ciptakan adalah pena, dan Dia perintahkan untuk menulis. Ketika pena bertanya apa yang harus ditulis, dijawab: "Tulis semua yang akan terjadi sampai Hari Kiamat." Jadi, apakah kita panik atau tenang, mengeluh atau tunduk, ketetapan Allah pasti terjadi. Jangan tambah musibahmu dengan kerugian lain-hilangnya pahala kesabaran. Ali (semoga Allah meridainya) berkata: "Kalau kamu sabar, ketetapan Allah tetap terjadi dan kamu mendapat pahala; kalau kamu tidak sabar, tetap terjadi tapi kamu berdosa." **Kesepuluh:** Hadapi kekhawatiranmu dengan membantu orang lain semampumu. Kalau hidup terasa berat, cari orang yang membutuhkan dan beri mereka makan, pinjami uang, hibur yang sedih. Bahkan hal kecil seperti memberi ruang buat seorang saudara duduk di sampingmu di ruangan yang ramai bisa membuka hatimu untuk bahagia. Allah berfirman, "Wahai orang-orang yang beriman! Ketika kalian diminta memberi kelapangan di majelis, berilah kelapangan; niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu." Berilah kelapangan dalam hidup orang lain, niscaya Allah akan memberi kelapangan di hatimu, hartamu, kesehatanmu, dan kuburmu. **Kesebelas:** Usahakan untuk hadir di majelis ilmu dan zikir. Ketika kita merasa terpuruk, kita cenderung mengisolasi diri dari orang dan tempat yang baik, yang justru memperdalam luka kita. Ketenangan yang kamu rindukan itu ada di masjid. Nabi (sallallahu 'alaihi wa sallam) bersabda, "Setiap kali orang-orang berkumpul di salah satu rumah Allah, membaca dan mempelajari Al-Qur'an bersama, ketenangan turun, rahmat meliputi mereka, malaikat mengelilingi mereka, dan Allah menyebut-nyebut mereka." Ketika kecemasan terasa berat, telepon seorang teman dan ajak ke masjid untuk membaca Al-Qur'an dan membaca tafsir bersama, dan lihatlah bagaimana hatimu berubah. **Kedua belas:** Jadikan zikir kepada Allah sebagai tempat perlindungan. Setiap mukmin tahu betapa pentingnya ini untuk melawan kecemasan. Allah berfirman pada utusan-Nya, "Sungguh, Kami telah menurunkan Al-Qur'an padamu secara bertahap. Maka bersabarlah untuk ketetapan Rabbmu, dan jangan patuhi pendosa atau kafir mana pun. Dan sebutlah nama Rabbmu pagi dan petang. Dan sujudlah pada-Nya serta pujilah Dia panjang lewat malam." Ibnu Taimiyyah berkata tentang ayat-ayat ini: "Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk mengingat-Nya pagi dan petang, karena mengingat-Nya adalah bantuan terbesar dalam menanggung kesabaran. Dia juga diperintahkan untuk salat malam, karena salat malam membantu urusan siang hari dan sumber kekuatan." Pikirkan kekhawatiran yang dihadapi Musa dan saudaranya saat diperintahkan menghadapi Fir'aun, yang mengaku sebagai tuhan. Bagaimana mereka diperintahkan untuk menghadapinya? Allah berfirman, "Pergilah, kamu dan saudaramu, dengan tanda-tanda-Ku, dan jangan lengah dalam mengingat-Ku." Inilah senjata mereka melawan tiran terburuk. Syaikh As-Sa'di berkomentar: "Mengingat Allah membantu dalam segala urusan, membuat segalanya mudah dan ringan." **Ketiga belas:** Bisa jadi Allah mengujimu untuk menghindarkan sesuatu yang jauh lebih buruk yang sedang menuju ke arahmu. Kamu nggak tahu apa yang sedang direncanakan. Para ulama menceritakan kisah seorang raja dan menterinya yang saleh. Setiap kali masalah datang, sang menteri bilang, "Allah hanya memilih yang terbaik." Suatu kali, saat makan, tangan raja terluka parah. Sang menteri mengulangi kata-katanya. Raja merasa terhina, memenjarakannya-tapi menteri itu tetap bilang, "Allah hanya memilih yang terbaik." Belakangan, raja pergi berburu sendirian. Ia tersesat ke wilayah penyembah berhala dan ditangkap untuk dikorbankan. Namun, mereka melihat tangannya yang terluka dan membebaskannya, menganggapnya nggak layak. Raja kembali, menyadari bahwa Allah hanya memilih yang terbaik. Ia bebaskan menterinya dan bertanya, "Aku paham kebaikan di balik lukaku, tapi saat aku memenjarakanmu, apa baiknya?" Sang menteri menjawab, "Kalau aku bersamamu waktu berburu, akulah yang dikorbankan." Dalam setiap ujian, jadikan motomu "Allah hanya memilih yang terbaik." Allah berfirman, "Mungkin kamu benci sesuatu padahal itu baik untukmu; mungkin kamu suka sesuatu padahal itu buruk untukmu. Allah tahu, dan kamu tidak." **Keempat belas:** Masalah itu hanya sebesar apa yang kamu buat. Ada pepatah Arab: "Ringankan, maka ia akan ringan," maksudnya kecilkan gunung jadi seonggok tanah. Begini caranya: a) Pikirkan yang lebih buruk. Seorang wanita yang telah melalui penderitaan panjang ditanya bagaimana ia tetap sabar. Ia bilang, "Ketika aku menghadapi ujian, aku ingat neraka, dan masalahku mengecil sampai sekecil lalat." b) Bersyukurlah pada Allah bahwa itu tidak lebih buruk. Kehilangan satu mata? Syukuri kamu nggak kehilangan dua-duanya. Patah lengan? Syukuri itu bukan tulang punggungmu. Seorang ahli ibadah bernama Muhammad bin Wasi' punya borok di kulit. Seorang teman merasa ngeri, tapi dia bilang, "Alhamdulillah itu nggak di lidahku atau kelopak mataku!" Seorang pria miskin, buta, dan cacat terdengar berkata, "Segala puji bagi Allah yang melebihkanku dari banyak hamba." Ditanya bagaimana bisa, ia bilang, "Dia memberiku lidah yang mengingat-Nya, hati yang memuji, dan tubuh yang sabar menghadapi ujian." c) Syukuri bahwa ujian itu tidak dalam imanmu. 'Umar bin Al-Khattab berkata, "Dalam setiap ujian, aku melihat empat berkah: itu nggak di agamaku, aku mampu menerimanya, itu nggak lebih buruk, dan aku berharap pahala." d) Hitung nikmat Allah padamu. Sedih sekali ketika kita buta pada nikmat yang tak terhitung dan cuma melihat satu yang hilang. Ketika kaki 'Urwah bin Zubair diamputasi, seseorang bilang, "Allah telah menjaga sebagian besar dirimu-akalmu, lidahmu, matamu, tanganmu, dan satu kakimu." 'Urwah menjawab, "Nggak ada yang menghiburku lebih baik." Ada yang mengeluh soal uang terbatas, tapi tanya: "Maukah kau jual penglihatanmu dengan jumlah besar?" Tidak. "Pendengaranmu? Bicaramu? Akalmu?" Setiap kali, tidak. Jadi sebenarnya, kamu itu multimiliuner-bagaimana bisa mengeluh? e) Ingat, seperti awan musim panas, semua akan berlalu. Pikirkan mereka yang diuji dengan sakit atau kehilangan. Waktu itu, mereka pikir nggak akan pernah pulih, tapi waktu berlalu, mereka sembuh, dan yang dulu memilukan jadi kenangan jauh. Semua yang tersenyum di sekelilingmu sekarang-bukankah mereka pernah menangis juga? Iya, mereka pernah, tapi waktu mengubah segalanya. Syaikh 'Ali al-Tantawi berkata, "Mereka yang menderita karena sakit, miskin, penjara, atau tirani-suatu hari akan tiba saat ini cuma jadi kenangan dan cerita yang dibagi dengan teman-teman."f) Lihat aja sekelilingmu. Kamu bakal cepat sadar kalau semua orang lagi berjuang dengan cara masing-masing. **Kelima belas:** Jangan harap dunia ini jadi sesuatu yang memang bukan tujuannya diciptakan. Ujian itu jarang yang gampang-dan hidup ini apa sih kalau bukan ujian? Hari-hari gampang yang langka itu cuma pengecualian. Allah bilang, "Sungguh, Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah." Susah payah waktu hamil, lahir, sekolah, kerja, nikah, ngurus anak, kesehatan, masa tua, dan kematian. Siapa pun yang ngarang-ngarang pengen hidup tanpa masalah, ngerasa cuma dia doang yang menderita, atau mikir penderitaannya paling berat, ya salah besar; kita semua lagi diuji. Ibn 'Uyayna pernah bilang, "Dunia ini duka, jadi kalau kamu dapet hari yang enak, anggap aja itu bonus." 'AbdurRahman An-Naasir, penguasa besar Andalusia, nyatet hari-hari enaknya. Setelah lebih dari 50 tahun berkuasa yang isinya perjuangan melulu, dia cuma nemu 14 hari kayak gitu. Jadi, latih dirimu buat nerima dunia ini sebagai ujian sementara, dan inget jawaban Imam Ahmad waktu ditanya, "Kapan kita istirahat?" Beliau bilang, "Begitu kamu nginjakkan kaki pertama di surga." Aku mohon sama Allah biar kita bisa ngambil langkah itu, tapi sampai saatnya tiba, siap-siap aja buat apa pun yang hidup bawa. Ini tuh dunia, dan kita semua ada di dalamnya bareng-bareng. Semoga Allah jadikan 15 poin ini sebagai penghibur selama perjalanan singkat kita menuju Dia dan alam akhirat. Beneran deh, salah satu rahmat Allah buat diri kita yang lemah ini, Dia nggak ngaitin kebahagiaan sejati sama apa pun selain diri-Nya-bukan ke pasangan, pekerjaan, anak, harta, kesehatan, atau yang lainnya. Hal-hal itu, kalau ilang, masih bisa diganti. Tapi kalau Allah yang ilang, apa yang bisa nutupin itu? Sengsara beneran itu bukan kehilangan hal-hal tadi; tapi kehilangan Dia yang Tak Tergantikan. "Barang siapa yang beramal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan beriman-pasti Kami akan berikan kepada mereka kehidupan yang bahagia."

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

saudara
Diterjemahkan otomatis

Bro, cerita menteri di poin tiga belas itu… bener-bener ngubah cara pandang gue. Allah cuma milih yang terbaik, bahkan pas kita nggak bisa ngeliatnya.

saudara
Diterjemahkan otomatis

”Tanpa ujian, kita akan bertemu Allah dengan tangan kosong.” Itu pengingat yang sangat kuat. Semoga Allah beri kita kesabaran saat diuji.

saudara
Diterjemahkan otomatis

SubhanAllah, poin kesepuluh bikin gue sadar, selama ini gue tenggelam dalam kesedihan sendiri tanpa bantu orang lain. Saatnya lebih banyak volunteer deh.

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar