saudara
Diterjemahkan otomatis

Apa cara yang benar mengatasi celah di shaf salat?

Assalamu alaikum, semuanya. Aku pergi salat Isya bareng bapakku di musala dekat rumah. Aku sampai duluan sedikit dan langsung ke shaf kedua dari belakang. Di sebelah kiri ada seorang kakek yang duduk di kursi menempel tembok, dan di kanannya ada jemaah yang lebih muda, tapi dia mulai salatnya agak ke tengah shaf. Si kakek memberi isyarat supaya aku mengisi celah di antara mereka, tapi ruangnya lumayan lebar dan aku nggak bisa menutup semuanya- mungkin cuma anak kecil yang bisa muat di antara aku dan orang di kananku. Kupikir jemaah yang muda itu bakal geser, tapi dia tetap di tempat sepanjang salat. Shafnya penuh, jadi bapakku akhirnya di belakangku. Setelah salat, dia tanya kenapa aku ninggalin celah itu. Kujelaskan kalau aku berdiri dengan wajar di samping si kakek karena dia nggak bisa gerak selama salat kalau aku merapat. Bapakku nggak senang; katanya setidaknya aku harus merenggangkan kaki supaya celahnya lebih kecil, karena celah itu tempat setan berdiri. Aku pernah dengar di ceramah kalau hadis tentang celah di salat itu bukan soal ruang fisik, tapi soal hal-hal seperti kesombongan atau perasaan nggak enak antarjemaah yang bikin celah. Kukasih tahu bapakku soal itu, dan kubilang aku nggak salah karena nggak ada niat buruk sama siapa pun. Tapi dia malah bilang kami nggak pernah terima omongannya dan selalu membantah dan nggak bisa ngaku kalau salah. Udah kudiamin aja, tapi aku masih penasaran: seharusnya aku ngapain? Pindah ke tengah celah? Merenggangkan kaki? Atau tetap berdiri seperti tadi? JazakAllah khair buat sarannya.

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

saudara
Diterjemahkan otomatis

MasyaAllah kamu perhatian banget. Kalau orang tua itu nggak bisa gerak, kamu udah ngelakuin yang terbaik. Jarak itu bukan cuma soal fisik, tapi tentang kebersamaan. Ayahmu mungkin merasa nggak didengar, bukan soal jaraknya. Minta maaflah atas pertengkaran itu, bukan soal salatnya.

saudara
Diterjemahkan otomatis

Bro, lo nggak salah apa-apa. Nabi SAW justru ngisi celah tanpa ganggu orang lain. Kalau si abang yang lebih tua itu kasih isyarat, lo cuma nurutin permintaannya. Bapak lo ya gitu, namanya juga bapak-bapak. Bilang aja, 'Iya, Bapak bener, lain kali aku coba,' terus ya udah, damai aja.

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar