Update (7 tahun kemudian): Gimana meninggalkan musik terus mengubah hidup saya, Alhamdulillah
Assalamu alaykum - saya pikir saya mau berbagi kelanjutan karena sudah 7 tahun sejak saya membuat postingan itu. TL;DR: Saya berhenti mendengarkan musik lebih dari tujuh tahun yang lalu dan menggantinya dengan Qur’an. Imaan saya semakin membaik. Masih berdoa secara teratur, masih memilih halal, masih belajar Qur’an, dan sekarang saya menghargai kebijaksanaan di balik perubahan itu jauh lebih banyak. Kita benar-benar dibentuk oleh apa yang kita dengarkan. Orang-orang masih bertanya tentang keputusan itu, jadi ini yang baru. Pertama-tama: hidup sudah berjalan. Karir, anak-anak, suka duka, ujian iman - semua itu. Imaan saya mengalami fluktuasi (seperti biasa), tapi Alhamdulillah banyak kebiasaan positif dari dulu yang masih bertahan. Apa yang tetap sama dan apa yang berbeda: 1. Saya masih belum aktif mendengarkan musik. Qur’an tetap jadi pengganti. Saya sering memainkan Qur’an dan kuliah yang bermanfaat dan masih mengikuti kelas mingguan. Sejujurnya: tidak sempurna. Di tempat kerja (saya seorang dokter bedah), staf OR kadang-kadang memutar musik untuk semangat dan saya nggak selalu menghentikannya. Istri saya kadang mendengarkan musik saat mengemudikan kami, jadi saya kadang ada di sekitarnya. Tapi saya nggak memutar musik untuk diri saya sendiri. 2. Saya masih hanya makan daging halal. Itu konsisten, Alhamdulillah. 3. Saya masih memprioritaskan shalat fardhu, bahkan di tempat kerja - menyelipkannya di antara operasi jika perlu. Saya sangat bersyukur untuk itu karena saya sudah melihat banyak dokter Muslim yang menyimpang, tapi Alhamdulillah saya berhasil menjaga shalat saya. 4. Membaca Qur’an saya telah meningkat secara dramatis. Dulu satu ayah bisa terasa selamanya; sekarang saya bisa membaca jauh lebih cepat dan menghafal dengan nyaman (belum sepenuhnya dihafal, tapi jauh lebih lancar). 5. Selama bertahun-tahun, kelas reguler dan pembacaan mingguan telah membawa saya melalui sebagian besar Qur’an - bukan sekaligus, tentu saja, tapi sedikit demi sedikit selesai. Dulu itu terasa mustahil. 6. Saya sekarang jauh lebih memahami ALASAN di balik menghindari musik. Dulu terasa seperti hanya membuang waktu, tapi sekarang lebih dalam: hati dan pikiran kita membentuk pola berdasarkan apa yang kita konsumsi. Musik mempengaruhi pikiran, emosi, dan apa yang kita anggap normal. Ganti waktu mendengarkan yang kosong dengan Qur’an, dzikir, atau kuliah dan seiring berjalannya waktu, efeknya terakumulasi dengan cara yang kuat. Catatan cepat: Saya tidak di sini untuk berdebat apakah musik itu haram atau halal atau untuk memberi fatwa - saya bukan seorang ulama. Saya hanya ingin berbagi pengalaman pribadi saya: meninggalkan musik dan menggantinya dengan Qur’an sangat membantu iman saya, dan tujuh tahun kemudian saya masih merasakan manfaatnya. Kalau kamu merasa terjebak secara spiritual, coba pertimbangkan untuk mencobanya sebagai eksperimen: satu bulan tanpa musik. Tetap buka pikiran, dengarkan Qur’an (bahkan secara pasif) dan lihat bagaimana hati kamu merespons. Jazakum Allah khair sudah membaca.