Diterjemahkan otomatis

Memahami Adab Menundukkan Pandangan & Berinteraksi dengan Non-Mahram

Assalamu alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh Saya seorang akh Muslim di awal usia dua puluhan. Sudah cukup lama, saya sungguh-sungguh berusaha mempraktikkan menundukkan pandangan dari wanita non-mahram dengan benar. Saya selalu ingat perintah Allah dalam Al-Qur'an: “Dan katakanlah kepada laki-laki yang beriman, supaya mereka menundukkan pandangannya dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (Surah An-Nur, 24:30) Dan nasihat Nabi kepada Ali (RA) di mana beliau bersabda: “Janganlah engkau turuti pandangan (pertama) dengan pandangan (berikutnya). Pandangan pertama diizinkan bagimu, tetapi bukan yang kedua.” (Jami` at-Tirmidhi 2777) Jadi ya, saya pastikan untuk tidak melihat non-mahram tanpa perlu. Bahkan ketika harus berbicara dengan mereka untuk urusan kerja atau kuliah, saya menjaga kontak mata seminimal mungkin supaya tidak tampak kasar atau tidak fokus. Saya bahkan mulai pergi ke gym sangat pagi untuk menghindari lingkungan campur, dan saya menjauhi perkumpulan di mana orang mungkin tidak berpakaian sopan - cuma berusaha melindungi diri dari apa yang disebut “zina mata.” *Saya sangat ingin memahaminya dengan benar - tidak berlebihan, tapi juga tidak sembrono.* Beberapa hal yang saya pertanyakan: 1) Kapan tepatnya boleh melihat non-mahram? 2) Bolehkah kita melihat saudari non-mahram yang memakai hijab yang benar, jika tidak ada ketertarikan atau syahwat? 3) Apakah melihat dianggap salah hanya jika ada syahwat, atau melihat berulang tanpa syahwat juga tidak diperbolehkan? 4) Beberapa orang bilang tidak apa-apa selama niatnya suci. Benarkah itu, atau terlalu disederhanakan? Apakah boleh-tidaknya hanya tergantung niat, atau ada batasan jelas dalam Al-Qur'an dan Sunnah terlepas dari niat? 5) Bagaimana dengan hal-hal online? Misalnya di media sosial di mana wanita non-mahram mungkin muncul tanpa hijab yang benar - apakah melihat konten itu salah meski tidak ada syahwat? Saya tidak bertanya bagaimana mengendalikan diri atau semacamnya - saya sungguh-sungguh mencoba memahami apa yang sebenarnya diperbolehkan dan tidak ketika berinteraksi dengan non-mahram, baik di kehidupan nyata maupun online, berdasarkan sumber Islam yang benar. Sangat menghargai bimbingan dari akh atau ukhti yang punya pengetahuan fikih atau referensi ulama yang terpercaya. Jazakum Allahu khayran.

+235

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

Diterjemahkan otomatis

Pertanyaan yang bagus. Dari yang kupahami, hijab sendiri tidak serta-merta memperbolehkan untuk melihat. Perintahnya adalah menundukkan pandangan secara umum, dengan pengecualian untuk keperluan seperti dokter atau transaksi bisnis. Tapi Allah yang paling tahu.

+13
Diterjemahkan otomatis

Di poin ketiga, hadis tentang pandangan pertama dan kedua itu kunci. Melihat berulang kali, meski tanpa 'nafsu,' itulah pandangan kedua. Ini soal ketaatan, bukan sekadar merasa tergoda.

+17
Diterjemahkan otomatis

Post yang solid. Niat memang penting, tapi niat tidak mengesampingkan larangan yang jelas. Kalau tindakannya sendiri haram, 'niat murni' tidak tiba-tiba membuatnya jadi halal. Itu kesalahpahaman yang umum.

+6
Diterjemahkan otomatis

Semoga Allah membalas usahamu. Ini adalah jihad mata yang harus dilakukan setiap hari.

+12
Diterjemahkan otomatis

Salut bro, gue juga susah nih hadapin ini. Trik olahraga pagi emang bantu banget, sumpah. Kalo buat yang online, gue cuma menghindari ngescroll feed yang mungkin nongolin konten nggak bener. Lebih baik waspada daripada nyesel.

+4

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar