Untuk kamu yang Iman-nya terus goyah - kamu nggak sendirian, assalamu alaykum
Assalamu alaykum, saya minta kamu untuk baca dan ambil manfaat - saya lakukan ini untuk Allah dan Ummah. Dulu saya seorang ateis. Begini cara saya memperkuat Iman saya dengan menggunakan akal, bukan sekadar emosi. Berpikir secara emosional sering kali justru memperburuk keraguan; jangan biarkan perasaan jadi hakim terakhir. Hadapi keraguanmu langsung. Di bawah ini saya bagikan apa yang membantu saya, campur dengan hal-hal yang saya pelajari. Seperti judulnya: banyak yang bertanya-tanya kenapa iman mereka terasa tinggi satu hari dan rendah keesokan harinya. Iman itu memang fluktuatif - ini adalah ujian antara kamu dan Allah. Kalau tetap sama, kamu bakal seperti para malaikat. Yang lebih penting dari sekadar pikiran yang sekejap adalah tindakanmu. Jadi, coba gunakan pemikiran rasional daripada lonjakan emosional. Kalau kamu hanya merasakan sesuatu dengan kuat, itu nggak berarti itu benar. Cari ilmu tentang deen - ini adalah kewajiban meskipun kamu nggak harus jadi seorang ulama. Jangan remehkan pertanyaan yang mengganggu iman kamu; hadapi langsung daripada mengikuti secara buta. Singkirkan perasaan sejenak dan selidiki. Ada petunjuk dalam Al-Qur'an tentang jangan mengikuti apa yang kamu nggak punya pengetahuan (17:36). Jujurlah pada dirimu sendiri. Jangan munafik. Banyak Muslim yang stabil seperti itu karena mereka belajar, bertanya, dan menantang keraguan daripada menguburnya. Kalau kamu terlalu takut untuk bertanya karena berpikir itu akan merusak imanmu, kamu justru merugikan dirimu sendiri. Dulu saya pernah menghindari pertanyaan dan itu hanya membuat keraguan saya menumpuk. Sikap itu - menerima keyakinan tanpa memahami - diperingatkan dalam teks. Ini juga berlaku untuk mereka yang menjalankan iman hanya karena keluarga, bukan keyakinan pribadi. Setiap orang harus menyelidiki kebenaran dengan tulus. Beberapa orang di generasi yang lebih tua discouragement membaca Taurat atau Injil, bilang itu akan menyesatkan orang. Saya menemukan kebalikannya saat saya belajar dengan seksama: melihat kitab-kitab sebelumnya membantu saya menghargai konsistensi Al-Qur'an dan bahkan ramalan tentang Nabi ﷺ. Kalau kamu berjuang dengan keraguan, saya sarankan untuk memperkuat iman berbasis Al-Qur'an kamu dulu, lalu pertimbangkan untuk mempelajari kitab-kitab lain dengan pendekatan yang terbuka dan tanpa bias dan tanpa alasan emosional. Waspadalah terhadap iman buta dan bergantung pada mimpi atau visi saja. Ya, melihat Nabi ﷺ dalam mimpi bisa bermakna, tapi visi nggak boleh jadi fondasi keyakinan jika keraguanmu belum teratasi. Saya pernah lihat orang meninggalkan Islam setelah yakin karena mimpi atau visi; pengalaman pribadi bisa kuat tapi bukan pengganti pengetahuan dan kejelasan. Mengabdi kepada Allah perlu akal dan hati. Perasaan spiritual itu penting, tapi harus dipasangkan dengan pemahaman siapa Allah, sifat-sifat-Nya, dan apa yang Dia minta. Jika kamu nggak tahu tentang Allah, hanya spiritualitas saja nggak akan melindungimu dari kebingungan. Pelajari hal-hal dasar tentang Ilahi untuk memperkuat keyakinanmu. Terima kasih sudah membaca - saya ketik ini sendiri. Saya akan pakai ringkasan pendek karena saya nggak pandai meringkas. TL;DR - Gunakan alasan rasional dulu, bukan emosi. Cari ilmu tentang deenmu; itu wajib meskipun kamu nggak perlu jadi ulama. Jangan abaikan keraguan; hadapi langsung (Al-Qur'an 17:36). - Selidiki dengan tulus; takut untuk bertanya bisa berujung pada kemunafikan. - Pelajari kitab-kitab sebelumnya dengan seksama dan tanpa bias jika itu membantu, tapi bangun iman berbasis Al-Qur'anmu dulu. - Mimpi/visi tidak menggantikan pengetahuan. - Ibadah yang sebenarnya memerlukan pemahaman dan spiritualitas. Semoga Allah menguatkan iman kita dan membimbing kita ke pengetahuan dan ketulusan.