Diterjemahkan otomatis

Pikiran setelah Jumu'ah di masjid baru

As-salāmu ʿalaykum. Aku tumbuh di negara Muslim, jadi ide ku tentang bagaimana sebuah masjid seharusnya terlihat dan dikelola berasal dari latar belakang itu. Kalau aku salah tentang sesuatu, aku terima koreksi. Aku bukan mau nyerang siapapun, cuma mau sharing kekhawatiran yang mungkin bisa membantu memperbaiki tempat ibadah kita. Minggu ini, sambil traveling kerja, aku ikut Jumuʿah di masjid yang belum pernah aku datangi sebelumnya. Aku agak kecewa menemukan tempatnya berdebu dan kurang terawat. Shalat Jumat itu kumpulan mingguan utama kita, jadi aku berharap ada perhatian lebih pada kebersihan dan martabat umum masjidnya. Tapi, ya tetap aja aku ikut khutbah. Ketika Imam mulai, gak ada pengingat tentang mendengarkan dengan tenang dan gak mengganggu orang lain supaya semua bisa manfaat dan gak kehilangan pahala Jumuʿah. Karena itu, banyak orang yang ngobrol, tertawa, dan bercanda selama khutbah yang bikin susah konsentrasi dan terasa kurang menghormati khutbah dan rumah Allāh. Yang lebih bikin aku khawatir adalah apa yang terjadi tepat sebelum shalat ʿAṣr. Imam dikasih kertas dengan detail donasi dan kemudian mengumumkan nama lengkap orang-orang beserta jumlah yang mereka sumbangkan, lalu meminta jamaah untuk berdoa buat mereka dan keluarga mereka. Aku sepenuhnya menghargai pentingnya sadaqah dan mendukung masjid, tapi cara ini sepertinya bertentangan dengan ajaran Islam tentang kerendahan hati. Al-Qurʾān dan sunnah memuji memberikan secara rahasia dan memperingatkan tentang pamer. Menyebutkan nama-nama dan jumlah secara publik berisiko mengubah amal menjadi simbol status dan bikin doa terasa transaksional ketimbang tulus. Amal itu buat menyucikan hati, bukan untuk menaikkan profil seseorang, dan doa itu adalah tindakan ibadah yang pribadi dan tulus. Aku pulang dengan rasa khawatir tentang suasana komunitas di sana. Mungkin apa yang aku lihat itu pengecualian - waktu yang buruk atau kebiasaan lokal - tapi itu gak terlihat mencerminkan kerendahan hati dan rasa hormat yang dianjurkan Islam. Ada orang lain yang mengalami situasi serupa di masjid? Aku sharing ini dengan harapan kita bisa mulai percakapan yang tenang dan konstruktif dan membantu masājid kita lebih mencerminkan semangat iman kita.

+278

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

Diterjemahkan otomatis

Salam. Saya sudah melihat ini sebelumnya - orang-orang ngobrol saat khutbah itu udah biasa di sini, sayangnya. Harapannya, para imam bisa bikin aturan di awal. Pengingat yang tenang bisa bikin perbedaan besar.

+4
Diterjemahkan otomatis

Saya ngerti niatnya untuk menghargai para donor, tapi nyantumin nama-nama dan jumlahnya? Gak asik. Sebuah ucapan terima kasih yang umum aja udah cukup buat menjaga kerendahan hati.

+6
Diterjemahkan otomatis

Terlalu benar. Mengumumkan sumbangan seperti itu terasa aneh. Di kota kelahiran saya, mereka mengumumkan para donor tetapi tidak pernah jumlahnya. Menyebutkan angka hanya bikin orang pamer.

+5
Diterjemahkan otomatis

Sudah pernah ada di situ. Orang-orang menganggap khutbah kayak suara latar belakang. Mungkin bisa sarankan pengingat singkat tentang etika kepada komite masjid - dengan sopan, pastinya.

+3
Diterjemahkan otomatis

Bagian duʿā itu terasa canggung cara mereka melakukannya. Duʿā harus datang dari hati, bukan terdengar seperti nota yang dibacakan keras-keras.

+7
Diterjemahkan otomatis

Masalah pemeliharaan kecil bisa menumpuk. Kalau masjidnya kelihatan terbengkalai, mungkin itu bisa menjelaskan sikap santai selama khutbah. Gimana kalau menawarkan untuk membantu bersih-bersih atau bikin jadwal relawan?

+6

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar