Al-Qur’an - Sebuah Pernyataan yang Mencerminkan Diri Sendiri
Memohon perlindungan dari Allah dari setan yang terkutuk. Bismillah ar-Rahman ar-Rahim. Jazakum Allahu khayran udah nyempetin waktu buat baca. Dengan kemampuan yang terbatas, saya mau berbagi sesuatu yang, insya Allah, mungkin bisa bermanfaat. Hanya Allah yang memberi petunjuk, dan tujuan saya cuma mau mengajak merenung dan berdiskusi. Para pemikir seperti Gödel, Kant, dan Wittgenstein menunjukkan batasan-batasan akal dan bahasa: beberapa kebenaran gak bisa dibuktikan dari dalam suatu sistem; pikiran hanya menangkap penampakan; apa yang gak bisa diungkapkan menandai batas makna. Perhatikan ayat ini. Al-Qur’an - Surah Al-Kahf (18:22) (terjemahan Inggris) “Mereka akan berkata, ‘[Ada] tiga, anjing mereka yang keempat’; dan mereka akan berkata, ‘[Ada] lima, anjing mereka yang keenam,’ menebak yang tak terlihat; dan mereka akan berkata, ‘[Ada] tujuh, dan anjing mereka yang kedelapan.’ Katakan, ‘Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka. Tak seorang pun yang mengetahui mereka kecuali sedikit. Jadi janganlah kamu berdebat tentang mereka kecuali dengan argumen yang jelas, dan janganlah menanyakan tentang mereka kepada [para spekulator] dari siapa pun.’” Terjemahan itu indah, tetapi saya mau menawarkan parafrase yang coba menangkap simetri dan kedalaman bahasa Arab dalam bahasa Inggris yang sederhana. Parafrase: Orang-orang terus mengubah setiap pertanyaan menjadi sesuatu yang katanya gak bisa dijawab, sementara semua itu sebenarnya berputar di sekitar suatu Jawaban yang gak berani mereka pertanyakan. Berhenti sejenak dan rasakan itu. Kalimat itu terlipat kembali ke dirinya sendiri seperti cermin, seimbang sehingga intuisi kamu merasa itu koheren bahkan sebelum pikiran kamu bisa sepenuhnya menjelaskan kenapa. Rasa langsung tentang kebenaran yang gak bisa kamu buktikan sepenuhnya itu mirip dengan apa yang dibahas Gödel: kebenaran yang lolos dari bukti dari dalam sistem yang mengenal mereka. Sekarang bayangkan kata-kata semacam itu diungkapkan empat belas abad yang lalu di gurun Arab kepada Nabi kita (semoga damai atasnya), yang gak bisa baca atau tulis, namun membacakan ayat-ayat yang sangat indah dan bermakna. Dalam bahasa Arab Badawi yang murni, setiap ayat terbuka ke dalam simetri, rima, ritme, frasa yang saling mencerminkan, dan nada yang terukur yang menyentuh telinga seperti logika yang dirajut ke dalam puisi. Al-Qur’an menyampaikan makna dan desain pada saat yang sama. Apa yang saya coba tangkap di sini hanyalah sepintas dari keindahan itu dalam bahasa Inggris saya yang tidak sempurna. Pikirkan tentang apa yang harus termuat dalam seluruh Al-Qur’an. Tidak ada daya kecuali Allah. Semoga Allah memandu kita semua kepada-Nya.