Al-Qur'an Memandu Hati yang Terbuka, Bukan Hanya Akal yang Suka Berdebat - Bismillah
Bismillah. Banyak orang berpikir bahwa saat mengajak seseorang masuk Islam-terutama mereka yang bilang mereka ateis-gerakan terbaik adalah langsung terjun ke debat filosofis yang rumit. Kita menganggap bukti logis yang sempurna akan memaksa orang untuk percaya. Niat yang baik, sih, tapi ini bukan cara utama yang digunakan Nabi ﷺ dan para sahabatnya, dan sering kali metode ini gagal atau malah jadi bumerang. Cara yang paling aman dan efektif adalah mengikuti metode Nabi. 1) Al-Qur'an ditujukan untuk hati yang terbuka dan rendah hati, bukan untuk pendebat yang sombong Allah membuka wahyu terakhir bukan dengan risalah filosofis yang dalam, tapi dengan pernyataan yang jelas tentang siapa yang dituju oleh Buku ini: “Alif, Lam, Meem. Ini adalah Buku yang tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (2:1–2) Petunjuk dari Al-Qur'an bagaikan hujan: dia bermanfaat bagi tanah yang subur. Tanah yang subur adalah hati yang memiliki sedikit ketulusan, kerendahan hati, dan rasa takut untuk salah. Seseorang yang menganggap iman sebagai olahraga intelektual-dengan tujuan tunggal untuk menang-memiliki hati yang keras. Hujan turun tapi mengalir begitu saja. Kesombongan menghalangi petunjuk. Allah berfirman tentang orang-orang seperti itu bahwa bahkan jika kamu memperingati mereka, “mereka tidak akan beriman.” (2:6) 2) Misi Nabi: mengajak kepada kesaksian yang sederhana Nabi ﷺ tidak diutus untuk memenangkan pertandingan tinju filosofis. Dia diperintahkan untuk mengajak orang kepada kesaksian yang jelas yang mengamankan hak-hak mereka di dunia dan kunci untuk akhirat: “Aku diperintahkan untuk berjuang sampai mereka bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak untuk disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Utusan Allah, dan mereka mendirikan shalat dan memberi zakat…” (Bukhari/Muslim) Ini menunjukkan tujuan langsung dari dakwah: menghadirkan kesaksian yang didukung oleh fitrah, tanda-tanda di alam ciptaan, dan teks-teks yang diwahyukan (Al-Qur'an dan hadis). 3) Metode Nabi itu sederhana dan teratur - Mengajak (dakwah): Setiap Muslim, sesuai dengan kemampuannya, harus mengajak orang lain dengan jelas dan penuh kasih sayang. Sajikan bukti-bukti yang mudah diakses-fitrah, tanda-tanda di sekitar kita, dan Al-Qur'an dan Sunnah. Jika seseorang menerima, alhamdulillah. Jika mereka menolak karena sombong, kamu tetap sudah memenuhi kewajibanmu. 4) Bahaya membangun iman hanya di atas filosofi Misalkan kamu menghabiskan berbulan-bulan berdebat dengan seseorang menggunakan bukti filosofis yang canggih, dan mereka bilang, “Oke, saya yakin.” Apa yang kamu bangun dasar iman mereka? Penalaran filosofis manusia. Risikonya: satu argumen tandingan yang lebih kuat bisa menjauhkan iman mereka lagi. Iman mereka tidak terikat pada wahyu atau fitrah hati, tetapi pada konstruksi buatan manusia yang bisa dibongkar. Ini menjelaskan kenapa beberapa orang yang jadi Muslim lewat bujukan filosofis kemudian pergi ketika dihadapkan dengan argumen yang berbeda. Mereka membangun di atas pasir. Kesimpulan: Tetaplah pada cara Nabi Ajak orang-orang menggunakan apa yang Allah sendiri gunakan: - Fitrah di dalam hati - Tanda-tanda di alam semesta - Panduan yang jelas dari Al-Qur'an dan Sunnah Seseorang yang merangkul Islam atas dasar tersebut memiliki iman yang dibangun di atas batu yang kokoh - berakar dalam hubungan langsung dengan Sang Pencipta, yang dikonfirmasi oleh ciptaan-Nya dan Firman-Nya yang terakhir. Itu adalah jalan menuju kepastian yang abadi.