Singa, Ular, dan Madu - Sebuah Pengingat
As-salamu alaykum. Seorang pria bermimpi yang sangat mengguncang hatinya. Dalam mimpinya, seekor singa mengejarnya. Dia berlari sampai dia mencapai sumur dan turun dengan tali untuk bersembunyi. Melihat ke bawah, dia melihat seekor ular besar menunggu di bawah, mulutnya terbuka. Melihat ke atas, dia melihat dua tikus - satu hitam, satu putih - dengan tenang menggigit tali yang dipegangnya. Merasa putus asa, dia melihat sebuah sarang madu kecil di dinding sumur. Dia mencicipi madunya dan begitu tertarik dengan manisnya sampai dia melupakan singa, ular, dan tikus-tikus itu. Bagaimana mimpi ini bisa dipahami: - Singa adalah kematian, selalu mengejar kita dan semakin dekat setiap harinya. - Ular adalah kubur, tempat yang akan kita masuki saat tali akhirnya putus. - Tikus hitam dan putih adalah siang dan malam, yang terus menggerogoti waktu kita. - Madu manis adalah dunia, yang kenikmatannya mengalihkan kita dari apa yang benar-benar penting. Pria yang tergantung di tengah adalah kita semua. Kita mencicipi sedikit manis - makanan, hiburan, hubungan, kenyamanan - dan menjadi begitu terjerat hingga kehilangan pandangan tentang kematian, berlalu waktu, dan kubur. Cerita ini bukan untuk menakut-nakuti, tapi untuk membangunkan. Manisnya hidup ini sementara; kehidupan selanjutnya adalah yang abadi. Hari dan malam akan terus menggigit sedikit demi sedikit, entah kita memperhatikannya atau tidak. Bagi orang beriman, kubur adalah jalan menuju rahmat Allah. Mengingat kematian tidak menjadikan hidup lebih suram - itu membuat prioritas kita lebih jelas. Gunakan waktumu dengan bijak. Nikmatilah madu, tapi jangan terbenam di dalamnya. Lari dari singa dengan berlari kepada Allah, bukan menjauh dari-Nya. Siapkan diri untuk ular dengan bersiap-siap untuk kehidupan setelah mati. Setiap hari dan setiap malam memotong tali sedikit, tapi setiap momen juga adalah kesempatan untuk mendekat ke Jannah.