Wawancara dengan Rabb Kami
As-salamu alaykum. Bayangin ini: seseorang melamar kerja. Role-nya minta resume dan nyantumin syarat-syarat. Bahkan kalau kamu punya gelar dan penghargaan, kamu tetap harus ke wawancara buat liat apakah kamu cocok. Ada empat pelamar. - Orang A: Gak ada kualifikasi. Resumennya lemah dan orang ini nggak ngikutin langkah-langkah buat belajar skill yang dibutuhkan. Mereka ngirim, tapi nggak ada wawancara. - Orang B: Pelamar yang solid. Resumennya sesuai dengan syarat-syarat dan orang ini udah menunjukkan keahlian mereka. Mereka dapet wawancara. - Orang C: Ragu-ragu buat melamar. Ada beberapa poin yang baik, tapi juga ada tanda bahaya. Pemborong harus memutuskan apakah mau mengundang mereka. - Orang D: Nampaknya sempurna di kertas, tapi semuanya palsu-sertifikat plagiat atau kredensial yang dibeli. Mereka sebenarnya belum belajar apa-apa tapi entah gimana dapet wawancara. Di titik ini, si pemborong cuma tahu yang ada di resume. Wawancara ada untuk menilai sikap, niat, cara bicara, dan kepercayaan diri-bukan cuma CV. Perusahaan bisa merekrut semua orang, tapi wawancara membantu memutuskan siapa yang paling tepat mewakili organisasi. Dari sudut pandang manusia, mereka yang punya resume terbaik terlihat paling mungkin dipilih, tapi Orang A bahkan gak dapat kesempatan untuk bicara. Yang lain dapat. Sekarang terapkan ini ke keyakinan Islam dan Hari Perhitungan. Dalam Islam, penilaian bukan cuma angka dingin dari tindakan. Ini adalah pertemuan dari niat, perjuangan, dan rahmat Allah. Kadang orang bilang Allah itu tidak adil karena penerimaan ke Surga sepertinya pilihan-Nya sendiri. Tapi manusia pun sama-sering kali dengan sedikit rahmat. Seperti seorang pemborong yang memilih karyawan yang menguntungkan perusahaan, Allah gak butuh ibadah kita. Dia adalah Al-Ghani. Ketika Dia memanggil kita untuk berdoa, berbuat baik, dan berperilaku lurus, manfaatnya untuk kita. Dalam analogi ini, “wawancara” adalah ketika kita berdiri di depan Rabb kita dan menjelaskan hidup kita. “Resume” adalah catatan kita-amal baik dan buruk. Rahmat yang mengejutkan adalah setiap orang akan mendapat kesempatan untuk bicara, tidak peduli kapan mereka hidup. Kenapa harus menjelaskan jika semuanya sudah tertulis? Karena niat (niyyah) itu yang pertama kali penting. Motivasi dalam memberi tindakan nilai yang sebenarnya. Seseorang mungkin terlihat benar di luar, tapi kalau mereka tidak pernah berniat untuk beriman atau melakukan amal karena Allah, amal mereka kehilangan bobot moralnya. Saya tidak mengklaim siapa yang pergi ke mana-hanya niat itu krusial. Juga, Allah adalah Ar-Raheem. Rahmat itu pusat dalam Islam. Al-Qur'an dan Hadith menekankan rahmat Allah dan bahwa taubat yang tulus mengangkat seorang. Itu gak berarti dosa diperbolehkan; berdosa dengan pengetahuan tanpa taubat yang tulus dan usaha untuk memperbaiki itu salah. Tapi mereka yang menyadari kesalahan mereka, bertobat, dan berusaha untuk berubah adalah orang-orang yang dicintai di sisi Allah. Jadi keempat pelamar mencerminkan tipe orang yang akan kita temui di Hari Perhitungan. Allah akan mempertanyakan setiap orang, mempertimbangkan ketakutan mereka kepada-Nya, iman mereka, niat mereka, dan usaha mereka untuk kembali setelah gagal. Rahmat bisa mengalahkan kegagalan, tetapi amal tetap bersaksi. Saat orang khawatir bahwa amal baik tidak akan berarti karena penerimaan adalah pilihan Allah, ingatlah manusia berargumen sama: seorang pemborong tetap bisa memilih siapa pun yang mereka mau. Tapi manusia itu transaksional. Hubungan Allah dengan kita tidak transaksional-Dia adalah Maalik dan Rabb kita, Pencipta kita, dan kita berutang segalanya kepada-Nya. Memahami itu butuh tawheed dan iman yang teguh. Lakukan yang terbaik dengan niat tulus agar ketika kamu berdiri di depan Allah, kamu sudah berusaha sebaik mungkin untuk mendapatkan cinta dan rahmat-Nya. Semoga Allah mengampuni kita, menambah syukur kita, menyembuhkan ummah kita, dan memberikan kita Jannah dan kedamaian di kehidupan ini dan selanjutnya. Ameen.