Bergumul dengan Fallibilisme dan Yaqīn: Bisakah Saya Menjadi Muslim Tanpa Kepastian Absolut?
As-salām alaykum, Saya udah ngalamin krisis religius selama sekitar enam bulan dan berharap ada yang bisa bantu dengan beberapa keraguan. Saya seorang mahasiswa kedokteran dan semua ini mulai saat saya rotasi psikiatri di bangsal untuk orang muda yang mengalami episode psikosis pertama. Banyak yang seumur saya. Sementara beberapa jelas terlihat sangat tidak sehat, yang lain tampak baik-baik saja secara lahiriah - ramah, sosial, tipe orang yang gak bakal kita duga mengalami psikosis kecuali kita ngobrol lebih dalam. Dalam percakapan itu, mereka menggambarkan pengalaman seperti merasa diawasi, diikuti, atau diracuni. Bagi mereka, pengalaman itu 100% nyata. Mereka punya ingatan dan kesan sensori (gambar, suara, sentuhan) yang mengkonfirmasi delusi mereka. Mencoba meyakinkan mereka bahwa mereka salah kayaknya sia-sia, karena mereka punya bukti hidup langsung untuk keyakinan mereka. Itu bikin saya bertanya: bagaimana kita tahu apa yang benar? Bagaimana kita bisa yakin tentang apa yang nyata dan apa yang tidak? Kebanyakan pengetahuan kita bergantung pada indra dan akal, tapi itu bisa salah. Menurut saya, jika indra dan penalaran itu gak bisa selalu diandalkan, kita gak bisa 100% yakin tentang apapun. Saya mengalami krisis ala Cartesian dan mencari jawaban Islami. Saya membaca al-Munqidh min al-Ḍalāl karya al-Ghazālī dan merasa terhibur karena seorang cendekiawan besar juga menghadapi perjuangan yang sama. Dia menulis bahwa penyembuhannya bukanlah bukti filosofis, melainkan cahaya yang Allah letakkan di dadanya. Saya udah sholat tahajjud, berpuasa secara sukarela, dan berdoa dengan tulus, tapi saya belum merasakan 'cahaya' yang sama. Kekhawatiran bahwa pengalaman kita bisa salah terus muncul kembali. Saya kemudian membaca artikel tentang kritik Ibn Taymiyyah terhadap skeptisisme radikal yang meyakinkan saya bahwa skeptisisme ekstrem - meragukan segala sesuatu termasuk keberadaan diri sendiri - itu gak bisa ditolerir. Jika kamu meragukan setiap bagian pengalaman atau logika yang kamu gunakan untuk meragukan, kamu gak bisa bertindak. Tapi gak semua skeptisisme itu radikal. Fallibilisme (istilah dari filsafat modern) menerima bahwa pengetahuan manusia bisa salah sambil tetap membolehkan kita bertindak berdasarkan bukti terbaik yang ada. Seorang fallibilis mempercayai kedokteran yang didukung dengan baik sambil mengakui bahwa itu mungkin gagal. Posisi itu terasa jujur bagi saya. Beberapa penulis bilang bahwa kepercayaan kepada Allah bersandar pada fitrah dan gak perlu bukti filosofis; menempatkan Allah sebagai dasar menghilangkan banyak keraguan skeptis karena Pencipta yang sempurna gak mungkin penipu, jadi kemampuan kita umumnya dapat dipercaya. Saya merasa itu menarik, tapi belum sepenuhnya menyelesaikan ketegangan saya dengan fallibilisme. Fallibilis bukan skeptis radikal - kita hanya menerima bahwa kepastian dalam pengertian absolut mungkin tidak bisa dicapai. Untuk menyatakan kembali posisi saya: Saya pikir pengetahuan manusia gak pernah 100% pasti dan selalu terbuka untuk kesalahan. Meski begitu, kita harus bertindak berdasarkan bukti yang paling didukung sambil menyadari adanya kemungkinan kesalahan tersebut. Perjuangan saya adalah: bagaimana itu cocok dengan menjadi Muslim? Bahkan jika bukti untuk Islam terasa kuat bagi saya, fallibilisme menyarankan bahwa kepastian mutlak itu gak bisa dicapai. Islam sering bicara tentang yaqīn - bukan hanya percaya tapi kepastian. Apakah yaqīn menuntut kepastian epistemik yang menyingkirkan kemungkinan kesalahan? Atau bisa kah yaqīn dipahami sebagai kepercayaan dan komitmen yang teguh meski mengakui kesalahan manusia? Ini penting secara praktis: bisa gak saya membuat duʿāʾ dengan tulus, mengandalkan Allāh, takut akan pertanggungjawaban, dan mencari rahmat-Nya jika saya gak bisa mengklaim kepastian mutlak akan keberadaan-Nya? Apakah saya hanya “bertindak seolah-olah”? Saya pengen tahu apakah Islam bisa mengakomodasi sikap fallibilis atau apakah iman yang tulus membutuhkan tipe kepastian yang gak bisa saya tegaskan dengan jujur. Saya akan sangat menghargai balasan yang berpikir, terutama dari mereka yang akrab dengan yaqīn, fitrah, atau pendekatan Islami terhadap pengetahuan.