saudari
Diterjemahkan otomatis

Berjuang menyeimbangkan Islam dan keluarga: menghormati orang tua rasanya mustahil sekarang, ada saran?

Assalamu alaikum semuanya. Pertama, alhamdulillah atas petunjuk. Aku baru saja mulai pakai hijab, yang artinya aku nggak bisa lagi sembunyiin agamaku dari orang tua. Dulu aku suka buru-buru keluar rumah dengan hijab longgar, dan nanya ke adik-adikku apakah aman. Aku takut ketahuan malah bikin semuanya makin runyam. Awalnya, aku rencana mau bilang setelah kuliah tiga tahun lagi, tapi setelah sholat istikhara, dua hari kemudian aku mimpi di mana aku ngomong ke mereka. Itu terasa kayak isyarat, tapi aku nggak tahu gimana caranya. Beberapa minggu kemudian, ibuku lihat Al-Quranku dan bilang, "Kuharap kamu cuma riset, karena aku nggak mau ada Muslim di sini." Aku cuma senyum aja diem-diem. Terus ayahku nelpon, bilang dia lihat Al-Quran, dan tanya dengan tenang apa yang terjadi. Aku anggap itu sebagai pembukaan dari Allah dan aku bilang kalau aku pilih Islam. Kami ngobrol sejam. Dia bingung tapi pas aku jelasin Islam larang putusin hubungan keluarga dan bolehkan aku kuliah dan kerja, dia bilang, "Ya udah, aku nggak terima tapi aku mau kamu sukses." Pada dasarnya, dia anggap masalahnya selesai begitu aja. Tapi pas ayahku kasih tahu ibuku, dia meledak. Dia kecewa karena aku nggak curhat ke dia. Kami pernah ngobrol di mana mereka tegaskan "kami Kristen," dan ayahku pernah bilang dia akan kutuk aku kalau aku tinggalin jalan mereka. Aku coba jelasin aku takut merusak dinamika keluarga, tapi dia potong aku, bilang aku nggak hormatin dia, aku bohong, aku khianatin dia. Lanjut lagi, kemarin ayahku nelpon dengan adik-adikku dan ibu di speaker. Mereka ngomel-ngomel soal bagaimana Amerika bikin kami tersesat, bahwa aku ikutin teman (padahal aku ketemu kebanyakan teman Muslim setelah masuk Islam!). Mereka bilang nggak akan pernah terima Islam karena terlalu kaku-suamiku bisa punya empat istri, bikin aku di rumah aja, dll. Lalu mereka debat Islam nggak cocok sama budaya kami karena babi dan anggur. Ibuku suka banget babi; aku udah berhenti makan babi sebelum masuk Islam dan dia nggak masalah. Ayahku bilang kalau pernikahanku nggak ada anggur, dia nggak akan datang atau merestui. Aku nggak sedih, cuma capek. Aku ngerti keterkejutan mereka, tapi susah banget hormatin mereka pas mereka bilang kalau aku nggak sajikan babi buat anak-anakku nanti, aku memaksakan Islam, atau bahwa nggak ada anggur itu nggak sopan. Aku bilang ke mereka aku akan tetap datang ke kumpul Natal, makan makanan halal di rumah mereka, tapi nggak akan sajikan babi atau anggur. Nggak ada yang aku bilang berpengaruh-mereka klaim mereka sudah tahu Islam sebelum aku lahir, tapi aku udah baca seluruh Al-Quran dan belajar selama enam tahun, sejak umur 13. Kalau bukan karena Islam menghargai keluarga, aku udah putusin hubungan setelah lulus. Aku berusaha keras untuk menyenangkan Allah dengan menjaga silaturahmi, tapi aku nggak tahu gimana cara ngadepinnya. Ada saran?

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

saudari
Diterjemahkan otomatis

MasyaAllah, imanmu luar biasa. Mungkin coba tulis surat buat mereka, jelasin perasaanmu dengan tenang? Kadang kata-kata yang ditulis itu lebih meresap. Semoga Allah memberi petunjuk buat mereka.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Sambil nangis bacanya. Aku juga mualaf, dan ibuku pernah membuang jilbabku. Sakit banget rasanya. Kamu nggak sendiri kok, dan Allah lihat perjuanganmu.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Ya Allah, lindungi kamu ya. Aku sarankan untuk fokus pada kebaikan-kebaikan kecil yang nunjukin indahnya Islam, kayak lebih banyak bantuin di rumah. Dan banyakin istighfar buat mereka.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Sis, kamu udah bener kok. Menghormati orang tua nggak berarti harus nurutin mereka dalam hal yang haram. Tetap salat istikharah aja dan percaya sama rencana Allah.

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar