Salaam - Kamu Selalu Berusaha Sebaik Mungkin (Perubahan Perspektif yang Lembut)
Assalamu alaikum, semoga tulisan kecil ini bisa mengangkat hati kamu. Ini agak berantakan, saya baru mulai nulis apa yang saya percayai, jadi semua masukan yang jujur diterima - positif atau tidak. Ketika kamu menerima bahwa kamu selalu melakukan yang terbaik, banyak rasa malu yang hilang. Kalau kamu bilang ke diri sendiri “seharusnya saya melakukan ini atau itu” dan terus menghukum diri di masa lalu, kamu terjebak dalam penyesalan. Tapi jika kamu ingat bahwa kamu sudah melakukan yang terbaik di saat itu, kamu bisa melihat kembali dengan lebih penuh kasih. Kamu mulai melihat bagaimana ketakutan, cara dibesarkan, kesehatan, dan banyak hal tak terlihat lainnya membentuk pilihanmu. Kasih sayang itu bikin lebih mudah buat jujur sama diri sendiri, karena kebenaran tidak lagi terasa seperti hukuman, tetapi seperti jalan menuju penyembuhan. Setelah kamu melakukan perubahan pola pikir ini, sesuatu yang lain mengikuti dengan alami. Jika kamu melihat diri sebagai orang yang memalukan, kamu akan terus mengulangi masa lalu. Tapi jika kamu percaya semua orang (termasuk kamu) berusaha sebaik mungkin, menyalahkan jadi kurang berguna. Ketika kesalahan terjadi, kamu langsung berpikir “OK, ini terjadi - bagaimana cara kita memperbaikinya dengan cara terbaik untuk semua yang terlibat?” Kamu mulai lebih bergantung pada penilaianmu yang baik dan bertindak dengan kejujuran yang tenang. Teruslah berlatih, dan kamu mungkin jadi lebih baik dalam kepemimpinan - bukan dengan paksaan, tapi dengan kasih sayang yang konsisten. Saat kamu latih ini dengan dirimu sendiri, kamu mulai menghayatinya dan menunjukkannya kepada orang lain. Ketika orang-orang melihat seseorang yang memperlakukan diri dengan baik, mereka juga bisa belajar melepaskan rasa malu. Ajarannya sederhana: lakukan yang terbaik, tahu bahwa kamu sudah berusaha sebaik mungkin, dan terima bahwa yang terbaikmu sudah cukup untuk saat ini. Ketika kamu memahami ini untuk dirimu sendiri, lebih mudah melihatnya bagi orang lain. Itu bikin berurusan dengan orang yang mengganggumu jadi sedikit kurang menyakitkan - kamu menemukan lebih banyak ruang untuk bersabar dan merangkul. Tapi ada nuansa: sebenarnya kamu sedang melakukan yang terbaik dalam hal apa? Mungkin di masa lalu kamu berusaha sebaik mungkin untuk menyabotase diri sendiri sambil juga berusaha bertahan hidup. Mungkin kamu mencoba menjalin hubungan tapi berusaha sebaik mungkin untuk menghindari kerentanan karena takut terluka. Sebagian dari pandangan ini adalah menyadari bagaimana kita kadang bekerja melawan diri sendiri. Percaya bahwa kamu selalu melakukan yang terbaik membiarkan cara-cara tersembunyi itu muncul dengan lembut, tanpa panik atau rasa malu. Pola-pola yang sebelumnya tidak disadari bisa jadi disadari tanpa terasa mengancam. Kesadaran datang padamu seperti seseorang yang mencari kehangatan dan penerimaan. Inilah yang kita sebut cinta pada diri sendiri. Satu lagi nuansa: bayangkan kamu lelah dan marah pada pasanganmu. Nanti, setelah istirahat, kamu menghadapi momen yang sama dengan kebaikan. Apakah kamu sudah melakukan yang terbaik dalam kedua situasi itu? Ya - tapi itu tidak menghilangkan tanggung jawab. Mengakui bahwa kamu marah tidak sama dengan menghukum diri sendiri. Kamu bisa menerima bahwa kapasitasmu berubah - kadang rendah, kadang tinggi - dan tetap berupaya untuk memperluas kemampuanmu merespons dengan kasih sayang. Keseimbangan ini mencegah penggunaan “saya selalu melakukan yang terbaik” sebagai alasan untuk menghindari pertumbuhan, sekaligus mencegah rasa malu yang menghancurkan untuk momen-momen di mana kamu gagal. Melakukan yang terbaik tidak berarti harus sempurna. Ada perbedaan antara melakukan yang terbaik dan berada dalam kondisi terbaikmu. Melakukan yang terbaik artinya menggunakan semua pengetahuan, emosi, dan batasan yang kamu miliki di saat itu. Itu tidak berarti kamu harus memuliakan kerja berlebihan atau penderitaan yang tak ada habisnya. Benar-benar melakukan yang terbaik juga tentang menghormati batasanmu: ketahui batasanmu, bekerja di dalamnya, dan biarkan kapasitasmu tumbuh secara alami seiring waktu. Bersabarlah dengan diri sendiri - pertumbuhan sering kali butuh waktu. Semoga Allah memberi kita kemudahan dan membimbing kita untuk memperlakukan diri sendiri dan orang lain dengan kasih sayang.