Diterjemahkan otomatis

Salaam - Mempertimbangkan Kembali Iman Setelah Meninggalkan Islam

Assalamu alaikum - Aku udah jauh dari Islam selama beberapa tahun karena aku percaya bahwa gak ada Tuhan. Ide bahwa Seorang Pencipta akan menghukum orang selamanya, apalagi cuma karena gak percaya, terasa kejam buatku dan gak layak untuk disembah. Aku juga punya keberatan moral terhadap beberapa aturan Islam yang menurutku gak adil. Belakangan ini, aku sering terbangun dari mimpi buruk tentang neraka. Waktu pertama kali pergi, ketakutan itu selalu ada tapi akhirnya memudar. Sekarang, rasa itu kembali, dan jujur aja, aku mempertanyakan apakah aku sudah membuat pilihan yang benar. Aku coba melihat ini tanpa bias lagi dan akan sangat menghargai pandangan atau sudut pandang yang mungkin menunjukkan bahwa Islam itu benar. Aku juga punya beberapa kekhawatiran spesifik yang ingin aku pikirkan: - Klaim bahwa Islam itu "abadi." Banyak aturan klasik terbentuk di masyarakat Arab abad ke-7 dan gak terlihat cocok dengan konteks modern yang pluralistik. - Perbudakan: bukannya ada penghapusan yang jelas, teks-teks itu menetapkan banyak aturan tentang bagaimana memperlakukan budak, sementara hal-hal seperti alkohol dilarang secara langsung begitu dianggap merugikan. - Perkawinan anak: Aku tahu penjelasan biasanya merujuk pada norma sejarah dan tanda-tanda seperti pubertas, dan bahwa banyak masyarakat melakukan hal serupa. Tapi, itu masih terasa berbahaya dan tidak bijaksana, jadi kenapa Nabi Muhammad, yang digambarkan sebagai orang yang paling berperilaku moral, mendukung sesuatu yang terlihat merugikan atau memalukan? Jika ada yang bisa memberikan respon atau bacaan yang pikirkan dengan baik dan berdasar yang menjawab poin-poin ini - terutama dari perspektif Muslim yang nyambung dengan sejarah dan etika - aku akan sangat menghargainya. Jazakum Allah khair atas bantuannya.

+242

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

Diterjemahkan otomatis

Mimpi buruk tentang neraka itu brutal - terapi membantu saya memisahkan trauma emosional agama dari pertanyaan intelektual. Saya juga membaca karya-karya para pemikir Muslim kontemporer yang bergulat dengan etika perbudakan dan pernikahan; mereka nggak menghindar dari isu-isu itu.

+3
Diterjemahkan otomatis

Inti singkatnya: 'abadi' biasanya berarti prinsip-prinsip seperti keadilan dan kasih sayang. Hukum-hukum tertentu bertujuan untuk mengurangi kerugian mengingat realitas saat itu. Nggak bikin masalah-masalahnya jadi hilang, tapi ini adalah kerangka yang mengurangi beberapa keberatan saya.

+7
Diterjemahkan otomatis

Bukan seorang apologis, cuma pria biasa: coba deh berinteraksi dengan teks-teks klasik dan kajian terbaru (cari maqasid al-sharia, Ibn Ashur, debat al-Ghazali). Ngobrol dengan imam-imam lokal yang penuh kasih juga bantu saya mencerna dilema moral.

+4
Diterjemahkan otomatis

As-salamu alaykum. Saya juga pernah meninggalkan keyakinan untuk sementara, keraguan itu berat. Beberapa ulama bilang prinsip moral inti itu abadi sementara keputusan bisa beradaptasi; yang lain berpendapat konteks itu penting. Mungkin bisa baca tafsir modern yang membahas maqasid (tujuan) Syariah. Itu membantu saya memikirkan kembali beberapa hal.

+7
Diterjemahkan otomatis

Saya mengalami mimpi buruk - itu bikin kamu terganggu. Untuk perbudakan dan pernikahan anak, saya menemukan tulisan-tulisan yang berguna yang menunjukkan reformasi bertahap dalam hukum Islam, bukan penghapusan mendadak, dan menekankan prinsip-prinsip kesejahteraan. Bukannya jawaban sempurna sih, tapi patut dipelajari sebelum membuat keputusan.

+7
Diterjemahkan otomatis

Saya cuma seorang pria yang pergi dan kembali sedikit kemudian. Kehidupan Nabi itu rumit; banyak tindakan yang terkait dengan norma-norma suku dan memperbaiki kondisi di era itu. Lihat para sarjana yang membahas konteks sejarah daripada pandangan sederhana yang kamu lihat di internet.

+9

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar