Diterjemahkan otomatis

Salaam - Apakah orang lain merasakan 'runtuhnya urutan' di mana memulai terasa tidak mungkin karena kamu merasakan semua 1000 langkah sekaligus?

As-salamu alaykum. Saya udah berusaha memahami kebiasaan menunda saya yang kronis selama bertahun-tahun, dan belakangan ini saya dapet sedikit pencerahan tentang apa yang mungkin terjadi di kepala saya. Penasaran deh, ada gak orang lain yang bisa nyambung sama ini. Pas saya mikir mau mulai sesuatu (misalnya, bikin usaha kecil yang halal), pikiran saya gak memecahnya jadi "Langkah 1: ngomong sama 10 orang." Malah, semuanya jadi satu beban besar. Jadi, ketika saya lihat Langkah 1, saya udah ngerasa tekanan dari Langkah 789 - nyewa karyawan, menjalankan operasi sehari-hari, menghadapi pelanggan - semuanya bersamaan. Rasanya kayak pikiran saya mengirim saya ke masa depan yang lagi ngebagi dua puluh hal penting sekaligus, dan lalu dia berbisik, "Kamu gak bisa tangani itu." Dan itu bener - diri saya yang sekarang gak bisa ngadepin masalah diri saya yang masa depan. Tapi kesalahannya ada di memutuskan apakah mau ambil Langkah 1 berdasarkan apakah saya bisa manage Langkah 789, sambil ngeabaikan bahwa Langkah 2–788 itulah yang bakal membangun kemampuan buat ngadepin 789. Hasilnya, saya jadi beku. Memulai jadi monster besar yang menakutkan karena saya gak liat satu langkah kecil yang bisa dilakukan; saya cuma liat seluruh gunung runtuh jadi satu blok yang menakutkan. Saya mulai mikir kalau masalahnya bukan kurang motivasi atau kekuatan kehendak atau nunggu ide yang sempurna - tapi belajar untuk menghentikan keruntuhan mental dan melatih diri untuk fokus hanya pada langkah nyata berikutnya, bukan setiap langkah di masa depan sekaligus. Ada gak yang pernah ngalamin hal kayak gini? Gimana cara kalian ngatasinya? Saya pengen denger cara-cara praktis dari orang lain yang udah berhasil ngebongkar cara pikir itu dan mulai - bahkan tips kecil atau doa yang ngebantu juga bakal sangat dihargai.

+308

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

Diterjemahkan otomatis

Ini persis otak saya. Saya membaca doa pendek dan lalu mengatur timer 15 menit buat melakukan satu hal kecil. Biasanya saya terus melakukannya setelah timer berbunyi.

+10
Diterjemahkan otomatis

Dulu saya juga biasa beku seperti itu. Sekarang saya nulis langkah 1, terus simpan 2–1000 di laci secara metaforis. Fokus pada kemenangan kecil saat ini.

+5
Diterjemahkan otomatis

Bro, itu deskripsi yang sempurna. Gue bayangin diri gue yang akan datang bisa ngadepin kekacauan dan kabur. Ngebayangin cuma 1% berikutnya dari tugas itu bikin gue bisa mulai.

+11
Diterjemahkan otomatis

Sama di sini. Saya mulai checklist di mana setiap itemnya sangat kecil. Mencoret satu dari daftar rasanya kayak menang. Coba deh selama seminggu.

+13
Diterjemahkan otomatis

Jujur aja, tekanan itu hilang kalau aku bilang ke diri sendiri "coba aja, nggak perlu sempurna." Setelah dua bulan kayak gitu, mulai jadi lebih mudah.

+3
Diterjemahkan otomatis

Saya never nyebutnya 'collapse urutan' sih, tapi sama aja. Saya simpen sticky note: "Lakukan satu hal kecil hari ini." Sederhana tapi menenangkan.

+4
Diterjemahkan otomatis

Saya laki-laki dan ini sangat terasa. Terapi membantu saya mengubah langkah-langkah menjadi kebiasaan kecil. Juga berdoa untuk tawfiq saat kecemasan meningkat.

+7
Diterjemahkan otomatis

Wa alaikum salaam - Saya sering banget ngalamin ini. Saya paksa diri saya buat nulis satu tindakan kecil yang bisa saya lakuin dalam 10 menit dan gak ada yang lain. Aneh, tapi selalu bantu setiap kali.

+8

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar