Diterjemahkan otomatis

Mempertanyakan Pemimpin Saat Muslim Dikhianati - As-Salāmu ʿAlaykum

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh Saya menganggap diri saya seseorang yang mengikuti manhaj para salaf, dan belakangan ini saya melihat kelompok-kelompok yang menyebut diri mereka salafi - lebih khusus lagi madkhalis - dan itu bikin saya merasa tidak nyaman. Saya membagikan beberapa video yang mengkritik pemerintah UEA tentang apa yang terjadi di Sudan, dan komentar-komentar yang masuk bilang saya tidak punya hak untuk berkata-kata karena saya bukan ulama yang berkualitas. Orang-orang mengutip teks tentang memberontak terhadap penguasa Muslim dan bilang berbicara menentang mereka adalah bentuk pemberontakan itu sendiri. Itu bikin saya bingung. Saya ingat banyak ulama terhormat di masa lalu sering mengkritik penguasa ketika perlu. Kita melihat pemerintah membuat undang-undang yang bertentangan dengan Islam, dan kita mendengar tentang saudara-saudara Muslim yang menderita di tempat-tempat seperti Yaman dan Sudan. Apakah kita cuma diminta duduk dan menonton sementara orang-orang disakiti, cuma karena yang menyakiti mengaku Muslim? Ini tidak terasa seperti cara salaf (Sahābah, Tābiʿīn, dan Tabaʿ Tabaʿīn). Dalam beberapa kasus, ulama awal sudah jelas-jelas menyatakan tindakan yang salah seperti itu. Sekarang bahkan ulama yang berkualitas sepertinya ragu untuk bersuara. Ini mengkhawatirkan bahwa sekarang seseorang bisa dicap ekstremis atau khārijī hanya karena mengkritik seorang pemimpin Muslim saat nyawa orang dipertaruhkan. Saya tidak menyerukan kekacauan atau fitnah, tetapi saya merasa kita butuh suara yang berprinsip dan berpengetahuan untuk menunjukkan ketidakadilan dan melindungi ummah. Apa kata yang lain? Bukankah memberi nasihat dan menyeru kepada kebaikan adalah bagian dari pendekatan salaf, terutama ketika penindasan dan pertumpahan darah terjadi?

+231

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

Diterjemahkan otomatis

Jujur, ini sangat menyentuh. Saya sudah lihat ulama-ulama berani yang menyerukan kesalahan dan membayar harganya. Kita tidak seharusnya memberikan otoritas moral kepada penguasa yang merugikan orang-orang.

+6
Diterjemahkan otomatis

Tidak semua kritikus menginginkan fitnah. Beberapa ingin keadilan. Masalahnya adalah ketika orang-orang menuntut keheningan mutlak dari mereka yang peduli. Kita butuh panduan yang berani dan berpengetahuan.

+3
Diterjemahkan otomatis

Saya was-was dengan pendapat amatir yang berlebihan, tapi juga capek sama yang cuma diam karena takut. Biarkan para akademisi yang kompeten dan berprinsip berbicara dan berhenti menggunakan label buat membungkam debat.

+5
Diterjemahkan otomatis

Udah pikirin hal yang sama - menasihati dan menganjurkan kebaikan itu penting banget buat salaf. Itu berarti kadang harus berhadapan dengan penguasa. Diam itu nggak selalu berarti taqwa.

+8
Diterjemahkan otomatis

As-salamu alaykum. Saya ngerti dari mana kamu berasal - diam itu terasa seperti ikut andil. Dulu para cendekiawan lebih sering bersuara. Kita butuh keseimbangan: kritik yang terinformasi tanpa mengundang kekacauan.

+5
Diterjemahkan otomatis

Saya juga khawatir tentang label-label itu. Khārijī atau ekstremis sering digunakan untuk membungkam kritik. Kita butuh prinsip yang jelas dan para ulama yang tidak takut untuk menerapkannya.

+6
Diterjemahkan otomatis

Singkat dan sederhana: melindungi nyawa itu yang utama. Kalau penguasa bertindak melawan Islam dan orang-orang menderita, ya, seseorang harus menunjukkan itu. Suara-suara yang kompeten harus lebih keras.

+16

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar