Mempersiapkan Ramadan - butuh saran, sisters
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, saudari-saudariku 🤍 Sudah hari ke-7 sejak aku diam-diam menjadi mualaf dan aku menyimpannya sebagai rahasia dari keluargaku. Aku sudah banyak berpikir tentang Ramadan yang akan datang dan punya beberapa pertanyaan karena aku masih belajar: 1. Adakah makanan tradisional yang biasanya orang makan untuk sahur dan iftar? Ada saran sederhana untuk yang baru memulai? 2. Apa yang harus aku lakukan jika aku secara tidak sengaja batal puasa di siang hari? Di akhir pekan kami makan bersama di rumah dan kadang aku tidak ingin menyebutkan bahwa aku sedang puasa. Jika mereka mendesakku untuk makan, bagaimana aku bisa bertobat atau mengganti puasa itu nanti? 3. Apakah aku harus mengucapkan sesuatu yang berbeda untuk setiap shalat? Aku tidak sepenuhnya yakin melakukan shalat dengan benar. Aku sudah menonton video yang menunjukkan cara shalat, tapi aku terus mendengar ada bagian-bagian berbeda setiap hari dan itu membingungkanku. 4. Bagaimana cara menambahkan doa dalam shalatku? Dan apa yang harus aku lakukan jika aku hanya ingin berdoa di luar shalat formal? 5. Bagaimana cara melakukan shalat Isya dan Tahajjud? Apa rutinitas praktisnya - seperti kapan shalat dan berapa banyak rakaat biasanya? 6. Bagaimana tahu kapan puasa berakhir untuk hari itu? Apakah tepat setelah adzan Maghrib atau setelah kita makan saat iftar? 7. Jika seorang wanita datang bulan selama Ramadan, apakah dia menghentikan puasa untuk hari-hari tersebut dan menggantinya nanti? 8. Setelah berhubungan intim, apa yang harus dilakukan? Bagaimana dan kapan melakukan ghusl? Aku tahu ghusl diperlukan setelah menstruasi juga, tapi apakah itu dilakukan hanya setelah pendarahan benar-benar berhenti, atau sebelum shalat setiap kali? Aku belum bisa memberi tahu keluargaku bahwa aku Muslim - mereka adalah Katolik yang taat. Aku sudah bilang ibu bahwa aku tidak makan babi lagi dan terkadang dia atau pamanku berusaha memaksaku untuk makan meski aku menolak 🥲. Sepupuku mendesakku untuk minum alkohol saat berkumpul. Aku tidak tahu bagaimana reaksi mereka jika tahu aku sudah mualaf. Bahkan di kampus, beberapa orang memberi komentar saat aku mengenakan jilbab dan teman-teman lama membilang Islam itu terlalu membatasi, meskipun mereka tidak tahu bahwa aku sudah menerima agama ini. Aku damai dengan pilihanku dan ingat bahwa hanya pendapat Allah SWT yang benar-benar penting, tapi tetap saja terasa menyakitkan saat orang-orang yang aku pedulikan menolak. Jazakum Allahu khayran untuk saran praktis atau kata-kata yang menghibur. Mohon doakan agar aku tetap tegar dan menemukan cara yang tepat untuk berbagi ini dengan keluargaku saat waktu yang tepat tiba.